Sering Disebut Rangga Sasana Sunda Empire, Ini Sesungguhnya De Heeren Zeventien

oleh -3.884 views
Suasana pertemuan pejabat VOC (voc-kenniscentrum.nl)

JAKARTA-Petinggi Sunda Empire, Raden Rangga Sasana, meminta masyarakat jangan pernah menyamakan kemunculan Sunda Empire sebagaimana kemunculan Keraton Agung Sejagat. Sunda Empire ditegaskannya sudah ada sejak era Alexander The Great atau Alexander Agung, raja kekaisaran Makedonia, Yunani. 

“Jadi Sunda Empire jangan disamakan dengan keraton-keraton tadi, ini tatanan dunia internasional,” tutur Rangga di acara Indonesia Lawyers Club, tvOne, Selasa, 21 Januari 2020.

Rangga yang selama ini disebut-sebut sebagai petinggi Sunda Empire pun akhirnya mengungkapkan jabatan sesungguhnya. Dia mengaku dalam kerajaan dunia tersebut dirinya mengemban jabatan sebagai sekretaris The Heeren Zeventien.

Kata dia, sebutan petinggi itu hanya jabatan yang dilekatkan wartawan terhadap dirinya. Sedangkan jabatan sekretaris The Heren Zeventien dikatakannya diemban lantaran sebagai panitia untuk mempersiapkan tatanan dunia yang ideal sebagaimana era sebelum Perang Dunia ke II.

“Jabatan saya di sini salah satunya saya sekretaris The Heeren zeventien,” kata dia. 

Rangga menjelaskan, persiapan itu penting dilaksanakan karena pada 15 Agustus 2020, tatanan dunia kekaisaran yang saat ini diemban oleh Vatikan setelah pecahnya Perang Dunia ke II berakhir. Maka, Sunda Empire, selaku pemegang sertifikat bumi harus melanjutkan tatanan kekaisaran itu.

“Maka kekaisaran sunda atau pemilik sertifikat bumi, meneruskan atas tatanan bumi yang diberikan kepada Vatikan,” tutur dia.

Apa sebenarnya De Heeren Zeventien yang banyak disebutkan itu?

Dalam sejarah Indonesia, kedatangan Vereenigde Oostindie Compagnie (VOC) dari Negeri Belanda merupakan awal kisah panjang penjajahan. Dorongan untuk menemukan sumber rempah-rempah memunculkan minat menjelejah dunia di kalangan orang Belanda. Kamar dagang yang terbentuk di berbagai kota di Belanda berlomba membiayai ekspedisi untuk mencari daerah penghasil bumbu dapur seharga emas tersebut.

Sejarawan Arsip Nasional Republik Indonesia Mona Lohanda menyebut periode itu sebagai wilde vaart (pelayaran liar) yang tidak diatur dan seringkali menimbulkan persaingan di kalangan perusahaan dagang Belanda sendiri. Pada 23 Juni 1595, delegasi dagang Belanda pertama pimpinan Cornelis de Houtman tiba di Banten. Keberhasilan itu menumbuhkan rasa percaya diri di kalangan mereka. Tapi mereka tetap tidak bersatu. Tiap-tiap kongsi dagang malah semakin liar dalam perlombaannya menuju negeri di timur itu.

Dalam keadaan terpecah belah demikian, Belanda disibukkan oleh perang melawan Spanyol dan Portugis yang sama-sama memiliki nafsu menguasai jalur rempah-rempah dunia. Menurut sejarawan Universitas Leiden Femme Simon Gaastra dalam De Geschiedenis van de VOC, kompeni-kompeni dagang Belanda yang tercerai berai itu tak mampu menghadapi dua kekuatan sekaligus.

“Sebaliknya, kompeni yang bersatu dapat menjadi senjata ampuh di bidang militer dan ekonomi,” tulisnya.

Maka dimulailah proses perundingan untuk menyatukan kongsi-kongsi dagang yang ada di Belanda. Enam di antaranya dari Amsterdam, Zeeland, Delft, Rotterdam, Hoorn, dan Enkhuizen. Awalnya, kata Gaastra, tidak semua sepakat dengan penyatuan tersebut, terutama wakil dari Zeeland. Mereka terlampau curiga atas dominasi Amsterdam. Namun berkat upaya keras Johan van Oldenbarneveldt dari pemerintahan Belanda, serta campur tangan Pangeran Maurits, kamar-kamar dagang ini bersedia bersatu di bawah kamar dagang pusat, yakni VOC.

Pada 20 Maret 1602, VOC berhasil berdiri. CR Boxer dalam Jan Kompeni: Sejarah VOC dalam Perang dan Damai 1602-1799, mengatakan kalau kamar dagang pusat ini dipimpin oleh suatu dewan pengurus yang terdiri dari 17 utusan dari enam kamar dagang yang telah dilebur. Para pemimpin itu dikenal dengan sebutan Heeren Zeventien atau 17 Tuan.

Penetapan 17 Tuan ini dilakukan berdasar atas besarnya pengaruh perusahaan tiap kamar dagang. Maka terbentuklah porsi sebagai berikut: delapan dari Amsterdam, empat dari Zeeland, dan satu dari setiap kamar dagang yang kecil, serta anggota ke-17 dipilih atas kesepakatan bersama. Heeren Zeventien biasanya mengadakan pertemuan dua kali dalam setahun, yakni saat musim semi dan musim gugur. Sebagai anggota inti, atau mereka menyebutnya “kamar kepresidenan”, pertemuan hanya dilakukan di Amsterdam dan Middleburg (Zeeland).

“Dengan demikian terdapat kadar integrasi yang kian bertambah antara para pengurus dan kelas-wali atau oligarki perkotaan yang berkuasa,” kata Boxer.

Tugas Heeren Zeventien

Di bawah naungan Heeren Zeventien, VOC tumbuh menjadi kamar dagang yang kuat. Kejayaan mereka mampu menguasai perdagangan rempah dunia. Eksploitasi atas sumber rempah di Nusantara pun berjalan baik. Para pemimpin Heeren Zeventien dikatakan memainkan perannya dengan baik. Bahkan menurut Boxer cara pengaturan mereka lebih baik ketimbang kongsi dagang milik kerajaan Inggris, East India Company (EIC).

Jika tiap-tiap kamar dagang yang tergabung di EIC harus mempertanggungjawabkan sendiri proses pengiriman barang dari kapalnya, Heeren Zeventienmengurus segala urusan pengapalan seluruh kongsi dagang di bawahnya. Mereka menentukan luas jumlah investasi tahunan sehingga tidak ada yang saling tumpang tindih. Bahkan ketika EIC tidak turut campur dalam soal barang-barang yang kembali, Heeren Zeventienmengatur distribusi barang-barang tersebut.

“Di kantor pengurus pusat di Amsterdam, surat-surat dan semua dokumen VOC disimpan di lemari besar di ruang sidang Heeren Zeventien. Lemari tersebut mempunyai banyak kunci dan masing-masing kunci itu dipegang oleh para anggota dewan. Oleh sebab itu sangat tidak mungkin bagi seseorang untuk bisa membuka lemari tempat menyimpan dokumen dan surat-surat VOC,” tulis Mona Lohanda dalam Sejarah para Pembesar Mengatur Batavia.

Namun secara manajemen kongsi, Boxer kiranya menyebut EIC dan VOC memiliki manajemen yang hampir serupa. Para anggota Heeren Zeventien tidak turun langsung mengurus masalah pencarian sumber daya alam. Sehingga pengetahuan mereka akan negeri jajahannya sangat terbatas. Mereka hanya mengandalkan laporan-laporan dan catatan perjalanan yang dibuat oleh perwakilannya di VOC. Meski hal itu disebut jauh dari cukup jika ingin membangun kekuatan yang solid.

“Majelis komisi-komisi EIC yang berkedudukan di London dengan 24 orang anggota agaknya susunannya kira-kira sama dan berkembang menurut garis-garis yang serupa dalam hal ini, karena pengalaman pribadi tentang Asia tidak pernah dianggap sebagai syarat khsus yang diandalkan,” ucapnya.

Dalam menjalankan bisnisnya di tanah jajahan, peran Gubernur Jenderal amat penting. Mereka menentukan jalannya pemerintahan di sana dan menjadi mata-telinga bagi Heeren Zeventien. Namun pemilihan pemimpin ini tidak mudah. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi pejabat VOC untuk mendudukinya. Satu syarat yang sangat menentukan adalah persetujuan anggota Heeren Zeventien.

Tugas Heeren Zeventien di sini adalah memilih calon-calon yang diajukan anggota Dewan Hindia. Tetapi mereka juga memiliki hak untuk menolak tawaran calon dari dewan tersebut. Seperti kasus Jacques Specx yang menjadi Gubernur Jenderal di Batavia tanpa persetujuan Heeren Zeventien. Sebenarnya ia dipilih oleh Dewan Hindia untuk menutupi kekosongan jabatan yang ditinggalkan Jan Pieterzoon Coen saat menghadapi kepungan Mataram. Namun karena Heeren Zeventientidak menyutujuinya, Specx dipanggil pulang ke Belanda pada 1632.

Tugas Heeren Zeventienlainnya adalah pengaturan urusan saham. Mereka melakukan pengawasan yang sangat ketat terhadap perputaran uang di tubuh VOC. Karena tiap kamar dagang memiliki porsi saham yang berbeda di VOC maka pengaturan dari Heeren Zeventiendianggap sangat membantu. Selain itu para pemberi saham di VOC juga datang dari berbagai kalangan masyarakat, mulai dari saudagar, bankir, pemilik lahan, sampai pegawai pemerintah.

Memang terjadi kekurangan dalam tugas Heeren Zeventiendalam mengatur para investor ini. Seperti terlihat pada akhir abad ke-17, ketika saham mayoritas VOC dipegang oleh masyarakat Amsterdam. Bahkan jumlahnya terbilang fantastis. Dari 108 orang Amsterdam saja jumlah sahamnya setara dengan tiga perdelapan total modal saham milik kamar dagang Zeeland.

“Para pemegang saham yang kecil segera juga diborong oleh mereka yang lebih besar,” tulis Boxer.

Meski begitu usaha Heeren Zeventien itu semakin terasa manakala VOC berhasil mengembangkan bisnisnya dan merajai perdagangan di Eropa. Keberadaan Heeren Zeventienterekam jelas ketika para pegawai VOC selalu bertindak berdasarkan persetujuan 17 Tuan dalam dewan tertinggi perdagangan di negeri Belanda tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *