Kasus Virus Corona Negatif di Indonesia, Ini Faktanya

oleh -924 views
Petugas medis melakukan simulasi penanganan pasien terjangkit virus Korona di RS Margono Soekarjo Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Senin (3/2/2020). Idhad Zakaria / Antara Foto

JAKARTA-Meski Indonesia berpenduduk lebih banyak, Singapura, Filipina, dan Malaysia justru lebih dulu melaporkan kasus virus korona baru. Belum ada pasien positif pengidap 2019-nCoV yang ditemukan di wilayah Indonesia.

Keraguan terhadap absennya virus nCov di Indonesia belakangan ini cukup beralasan. Data Business 1ntelligence Service (B1S) m1nd, yang dikutip Kompas.id, menyatakan Indonesia menyumbang 7 persen dari sekitar 1,4 juta penerbangan keluar dari Wuhan antara Desember 2018 dan November 2019.

Indonesia menempati peringat keenam terbesar. Adapun lima negara lain dalam daftar tujuan utama perjalanan dari Wuhan tersebut, adalah Thailand (33 persen), Jepang (12), Malaysia (10), Singapura (9) dan Hong Kong (8).

Kelima negara tersebut telah mengonfirmasi adanya kasus infeksi korona baru. Lalu kenapa Indonesia masih “lolos”?

The Sydney Morning Herald pada 31 Januari 2020 melaporkan kecurigaan terhadap fenomena ini. Media itu menulis bahwa absennya kasus korona di Indonesia lebih karena ketidakmampuan laboratorium di Indonesia mendiagnosis virus ini.

Mengutip Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio, dalam wawancara via telepon, SMH mengungkapkan laboratorium medis Indonesia tidak memiliki kit pengujian yang diperlukan untuk mendeteksi virus korona Wuhan.

Belakangan, Amin Soebandrio dalam Kompas.id menyatakan pernyataannya telah disalahpahami. Menurut dia, pernyataannya tidak merujuk kemampuan pemerintah Indonesia secara umum. Ia hanya berbicara dalam kapasitas Lembaga Eijkman.

Secara teknis, Eijkman sudah memiliki teknologi dan kapasitas mendeteksi virus korona terbaru ini. “… kami sudah mendatangkan reagen baru yang bisa mendeteksi dalam satu hari. Alat ini juga dipakai di negara-negara lain, seperti Singapura,” katanya.

Namun, saat itu Eijkman belum menjalin kerja sama khusus dengan lembaga pemerintah.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan RI mengklaim telah memiliki reagen virus korona. Direktur Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, Windra Woworuntu, mengatakan harga reagen korona yang dimiliki Kemenkes mencapai Rp1 miliar.

Selain Balitbangkes Kemenkes, Universitas Airlangga juga diklaim telah memilikinya. Rektor Prof Moh Nasih mengatakan kampusnya berhasil menemukan reagen atau reaktan spesifik untuk mengidentifikasi virus corona Wuhan itu.

Perwakilan WHO di Indonesia, Dr Navaratnasamy Paranietharan, mengatakan Indonesia telah mengambil langkah konkret termasuk memperketat perbatasan internasional dan menyiapkan rumah sakit apabila terdapat kasus potensial.

“Ketersediaan alat tes khusus untuk mengkonfirmasi nCoV (novel coronavirus) minggu ini adalah langkah yang signifikan ke arah yang benar,” ujarnya dikutip dari The Sydney Morning Herald , Jumat (7/2/2020).

Dr Navaratnasamy yang juga bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI, menyatakan kekhawatirannya terhadap Indonesia, mengingat negara ini berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa, dan terbuka terhadap akses dari berbagai negara.

Pejabat kesehatan telah membuatnya yakin bahwa perlengkapan deteksi dini virus korona tipe baru yang dimiliki Pemerintah Indonesia dapat diandalkan.

Di luar kontroversi mengenai ketersediaan alat untuk mengkonfirmasi virus 2019-nCoV, belum ditemukannya kasus infeksi di Indonesia masih mengundang tanda tanya. Sejumlah spekulasi pun beredar, tetapi belum ada yang terbukti secara ilmiah.

78 WNI dinyatakan masih sehat meski berada di kapal pesiar Diamond Princess yang dikarantina di pelabuhan Yokohama, Jepang, karena virus korona baru. Kapal yang mampu mengangkut lebih dari 3.700 penumpang dan kru itu, 61 penumpang di antaranya telah positif terinfeksi virus korona.

Kabar lain tentang Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok yang meninggal di proyek Apartemen Meikarta, Cikarang, Bekasi, juga tidak berhubungan dengan virus korona baru. Polisi mengonfirmasi, hasil autopsi sementara TKA bernama Yuan Haisheng (46) itu tewas akibat kecelakaan kerja.

Desas-desus yang menyatakan orang Indonesia kebal virus korona atau virus ini tidak bisa beredar di kawasan tropis, menurut Amin Soebandrio tidak berdasar. Berita mengenai seorang WNI yang terinfeksi di Singapura, seharusnya membuktikan bahwa orang Indonesia tidak kebal virus korona.

WNI berusia 44 tahun yang terinfeksi di Singapura, diketahui tidak memiliki sejarah perjalanan menuju Tiongkok. Perempuan tersebut merupakan asisten rumah tangga dan tertular majikannya karena mereka tinggal serumah di jalan Bukit Merah, Singapura.

Selain itu, fakta bahwa Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand telah mengonfirmasi infeksi virus korona, menunjukkan bahwa virus itu bisa hidup di daerah tropis.

Di seluruh dunia, virus korona Wuhan positif menjangkiti 37.566 orang, dengan total korban meninggal dunia 813 orang. Melebihi epidemi SARS pada periode 2002-2003–yang juga dimulai dari Tiongkok–sebanyak 774 orang di seluruh dunia.

Tiongkok memang masih jadi pusat epidemi. Hingga artikel ini ditulis, Minggu (9/2/2020), tercatat 37.198 kasus yang terkonfirmasi sebagai infeksi korona Wuhan di Tiongkok, dan 811 di antaranya meninggal dunia.

Dari total yang meninggal karena 2019-nCoV, hanya dua dari luar Tiongkok daratan. Masing-masing satu orang di Hong Kong dan Filipina. Sisi positifnya, sebanyak 2.152 orang berhasil disembuhkan dari infeksi virus tipe baru yang belum ada vaksinnya itu.

WHO sudah menetapkan 2019-nCoV sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) sejak 30 Januari 2020 karena adanya peningkatan kasus yang signifikan dan kasus konfirmasi di beberapa negara lain.

Negara terjangkit menurut WHO adalah negara yang melaporkan transmisi lokal 2019-nCoV (human to human transmission) tanpa ada riwayat kunjungan ke Wuhan adalah Tiongkok, Singapura, Jepang, Republik Korea, Malaysia, Vietnam, Thailand, Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Inggris, dan Spanyol.

Sedangkan kasus di negara lain hanya melaporkan pasien yang memiliki riwayat bepergian ke Tiongkok, dan belum menemukan transmisi lokal di negaranya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *