Eropa Babak Belur: Tekan Laju Penyebaran Domestik Setelah Italia, Denmark Ikutan Lock Down

oleh -672 views

JAKARTA-Nilai tukar mata uang Euro melemah terhadap sejumlah mata uang negara utama dunia. Siang ini, euro tercatat melemah terhadap franc Swiss, yen Jepang, dolar Amerika Serikat (AS), dolar Taiwan, dan yuan China.

Mengutip data RTI, Rabu (11/3/2020), pelemahan euro terdalam tercatat terhadap mata uang rupiah, yen Jepang, dan dolar AS. Posisi euro terhadap rupiah per pukul 11.15 WIB tercatat melemah 79 poin (0,49%) ke level Rp 16.267.

Sementara terhadap yen Jepang, euro tertekan 0,5 poin atau 0,44% ke level 118,59 yen. Dan terhadap dolar AS, euro tercatat keok 0,42% ke level US$ 1,13.

Pelemahan euro terhadap sejumlah mata uang menguat seiring dengan melonjaknya kasus virus corona di Eropa. Italia, Prancis, Spanyol, dan Jerman bahkan kini masuk ke dalam daftar 10 besar negara dengan kasus positif corona di dunia.

Selain Italia, Prancis, Spanyol, dan Jerman, ada pula Swiss, Norwegia, Belanda, Swedia, Belgia, Denmark, dan Austria yang negaranya terjangkit virus corona lebih dari 100 kasus.

Negara-negara tadi termasuk negara anggota uni eropa yang menggunakan euro sebagai mata uangnya. Virus corona kini menjadi salah satu sentimen utama pendorong melemahnya perekonomian di sejumlah negara.

Denmark akhirnya menjadi negara kedua di Eropa yang memutuskan mengunci wilayahnya alias lock down untuk sementara waktu, setelah Italia.

Langkah tersebut diambil, menyusul kian membludaknya wabah virus Corona atau Covid-19 di Eropa. Lebih-lebih, saat ini WHO telah menetapkan status pandemik global terhadap wabah tersebut.

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mengatakan, semua sekolah di negaranya – mulai dari TK hingga perguruan tinggi – ditutup hingga dua minggu ke depan demi menekan laju penyebaran virus Corona.

Selain itu, event indoor yang dihadiri 100 orang lebih juga akan ditiadakan. Untuk PNS, hanya sektor strategis saja yang tetap berkantor. Selain itu, diputuskan untuk bekerja dari rumah.

Sektor swasta juga didorong untuk meminta karyawannya bekerja dari rumah, setelah Otoritas Keselamatan Pasien Denmark (Danish Patient Safety Authority) melaporkan 442 kasus infeksi baru Covid-19 pada Rabu (11/3).

“Konsekuensi yang ditimbulkan dari kebijakan lock down ini memang besar. Tapi, jika tidak kita lakukan, efeknya bisa lebih buruk. Dalam kondisi normal, pemerintah tak mungkin mengambil langkah seperti ini, tanpa ada persiapan yang memadai bagi semua warga Denmark. Tapi saat ini, kita menghadapi kondisi yang luar biasa,” jelas Fredriksen dalam konferensi pers, Rabu (11/3) petang, seperti dilansir Daily Mail.

The Local melaporkan, Fredriksen tak menampik kebijakan ini meminta ongkos yang tidam sedikit. Bisnis berhenti. Sebagian orang mungkin akan kehilangan pekerjaan.

“Kami akan berupaya semaksimal mungkin, untuk mengurangi dampak buruk yang timbul bagi karyawan,” kata Fredriksen.

Sementara itu, Direktur Otoritas Kesehatan Denmark (DHA) Soren Brostrom mengatakan, penyakit ini bukan hanya ancaman bagi Denmark. Tetapi juga seluruh dunia.

Untuk menekan laju penyebaran virus Corona, pemerintah Denmark telah mengubah strategi, dari ‘penahanan’ menjadi ‘penundaan’. Langkah ini mengisyaratkan upaya baru, yang semula memfokuskan sumberdaya dengan mencegah infeksi datang ke Denmark, menjadi menekan laju penyebaran di dalam negeri.

Sekadar latar, saat ini Denmark mencatat 113 kasus infeksi virus Corona, dengan angka kematian yang masih nihil. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *