Cerita Cornelis Dirk Ouwehand, Intelijen Wabah Kolera di Batavia

oleh -527 views
Cornelis Dirk Ouwehand (Nationaal Herbarium Nederland)

JUMLAH pasien positif virus Covid-19 terus meningkat sejak dua pasien pertama diumumkan pemerintah pada 2 Maret 2020. Untuk melacak persebarannya, pemerintah kemudian menggandeng Badan Intelijen Nasional (BIN) dan intelijen Polri.

Presiden Joko Widodo melalui akun Twitter resminya menyebut bahwa pemerintah berusaha menangani wabah ini tanpa menimbulkan kepanikan di masyarakat. 

”Pemerintah terus berusaha keras menangani wabah virus korona, dengan tanpa menimbulkan kepanikan masyarakat. Penelusuran terhadap siapa pun yang melakukan kontak dengan pasien positif Covid-19 misalnya, dilakukan Kementerian Kesehatan dengan bantuan dari intelijen BIN dan Polri,” cuitnya, 13 Maret 2020.

Dilibatkannya intelijen dalam menangani wabah ternyata pernah dilakukan pemerintah kolonial Belanda ketika Kota Batavia diserang kolera. Wabah kolera telah dikenal sejak 1821 dan terus terjadi hingga awal abad 20. Di Batavia, dinas intelijen kemudian dibentuk pada 1909 untuk melacak penyebarannya. 

Pembentukan dinas intelijen diprakarsai oleh Cornelis Dirk Ouwehand, dosen di STOVIA sekaligus dokter kota di Batavia. Dokter yang kemudian menjadi inspektur Dinas Kesehatan Sipil ini menyebut bahwa data kasus kolera dalam statistik resmi yang dilaporkan oleh rumah sakit selama masa kolera tidak dapat diandalkan.

Menurut Ensiklopedia Jakarta: Volume 2, pada 1910 dan 1911 tercatat sebagai tahun kolera. Rata-rata tiap 1.000 orang bumiputra yang tinggal di hulu kota meninggal dunia dalam kurun itu. Sementara di kota hilir (Batavia Lama) jumlah korban meninggal mencapai 148 orang. Hingga mendekati akhir, total warga Batavia yang meninggal diperkirakan sebanyak 6.000 orang.

Patrick Bek dalam “Fighting an (In)visible Enemy: Cholera Control in Jakarta” yang termuat dalam The Medical Journal of The Dutch Indies 1852-1942 menyebut dinas intelijen bertugas memantau kasus kolera secara independen. Dinas ini mengumpulkan data di kampung-kampung, termasuk korban kolera yang tidak berhasil sampai ke rumah sakit.

Intelijen lalu melaporkan apa yang kemudian disebut “kasus sporadis” pada periode antara dua wabah kolera. Mereka menunjukkan bahwa di antara dua epidemi, kolera tidak pernah sepenuhnya hilang dari Batavia. Daerah-daerah yang paling sering terkena dampak dan paling parah oleh penyakit ini juga telah ditemukan. 

“Badan intelijen memetakan fokus wabah baru-baru ini, yang disebut ‘kampung kolera’, di tepi sungai Ciliwung dan sungai Krukut, tempat tinggal kuli miskin dan Tionghoa miskin,” tulis Bek.

Pada 1911-1912 dinas intelijen beroperasi penuh di bawah naungan Dinas Medis Sipil yang baru didirikan, yang bertugas memantau kesehatan masyarakat dan bertujuan mengendalikan penyakit-penyakit umum dan infeksi.

Meski tak ada studi ekstensif mengenai dinas intelijen ini yang diterbitkan jurnal medis Hindia Belanda, para kontributor jurnal memuji didirikannya dinas ini. Mereka mengklaim bahwa dinas intelijen sangat penting dalam pengendalian kolera di Batavia.

Angka-angka dari dinas intelijen kemudian juga digunakan oleh P.C. Flu (1884-1945), asisten direktur Laboratorium Medis di Batavia, dalam sebuah studi menyeluruh tentang kolera di Batavia, pada 1915.  Dari studi tersebut, P.C. Flu mempresentasikan temuannya tentang pengaruh hujan terhadap epidemi kolera di Batavia dalam angka dan tabel. Ia menyimpulkan bahwa, seperti yang sudah diduga, hujan memiliki efek menguntungkan pada jumlah kasus kolera.

Kemudian ketika mempelajari angka-angka dari dinas intelijen, ia juga menemukan bahwa di musim hujan dan masa di antara dua epidemi kolera, kolera tidak pernah benar-benar hilang. Kolera tetap bertahan namun dalam bentuk yang ringan.

“Ini adalah penemuan penting, yang akan digunakan oleh dinas intelijen yang baru didirikan. Selain itu, penemuan ini juga disajikan dalam GTNI (jurnal medis Hindia Belanda) sebagai argumen untuk vaksinasi massal di Hindia Belanda, yang diperkenalkan di koloni sekitar waktu yang sama,” sebut Bek.

Meski demikian, wabah kolera di Batavia nyatanya masih merebak tiap tahun hingga 1920. Hal ini berkaitan dengan sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan penduduk Batavia yang rendah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *