Sarankan Tidak Lakukan Tradisi Lebaran di Tengah Pandemi, MUI: Bersalaman Diganti Silaturahmi Online

oleh -435 views
Ilustrasi/Net

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyarankan masyarakat untuk tidak melakukan tradisi lebaran berupa bersalaman untuk saling memaafkan secara langsung di tengah pandemi Virus Corona (Covid-19).

“Dalam situasi pandemi yang belum terkendali, takbir bisa dilaksakan di rumah, di masjid oleh pengurus takmir, di jalan oleh petugas atau jemaah secara terbatas, dan juga melalui media televisi, radio, media sosial, dan media digital lainnya,” demikian petikan fatwa Nomor 28 Tahun 2020 yang diterbitkan pada Rabu (13/5/2020) itu.

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas mengimbau umat Islam untuk tidak melakukan tradisi berkunjung ke sanak saudara saat Lebaran. Sebab kondisi pandemi ini sangat berbahaya jika ada kerumunan dan kontak fisik.

Selain itu, ia juga menjelaskan bersalaman merupakan ajaran dalam Islam yang pernah disabdakan Nabi Muhammad SAW dalam hadis yang diriwayatkan Abu Daud. Bahwa, berjabat tangan dapat menghapuskan dosa kedua pihak.

“Menyemarakkan bulan Ramadhan dengan berbagai aktivitas ibadah, di akhir ada aktivitas yang menjadi budaya berbalut norma keagamaan yaitu mudik Ramadhan. Tapi ada satu hal yang perlu kita ingat dan juga kita sadari bersama. Hari ini, pemerintah telah menetapkan Jabodetabek sebagai kawasan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), masuk kategori zona penularan tingkat tinggi,” kata Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Asrorun Ni’am Sholeh, melalui siaran langsung dari kanal YouTube BNPB, Senin (13/4/2020).

“Silaturahmi memang sangat dianjurkan. Dengan memanfaatkan teknologi silaturahmi bisa tetap erat, silaturahim bisa dilakukan online, tanpa harus ketemu secara fisik,” imbuhnya.

Asrorun ingin agar masyarakat tidak keluar rumah terutama bagi mereka yang berada di zona merah. Bagi warga yang berada di zona merah seperti Jabodetabek, Asrorun mengimbau agar tidak ke mana-mana.

“Kalau anda berada di kawasan Jabodetabek, berada di kawasan merah, penyebaran, maka jangan keluar dari kawasan merah itu, yang jika anda keluar akan potensial menularkan kepada saudara-saudara kita. Jangan sampai niat baik dilakukan dengan cara yang salah,” katanya.

Dia berharap masyarakat mampu beradaptasi dengan situasi wabah Corona. Ia mengingatkan bahwa wabah ini bukan untuk meniadakan ibadah tapi menjadi kebiasaan ibadah yang baru.

“Pencegahan wabah Covid-19 bukan dengan meniadakan ibadah, tapi menyelenggarakan ibadah dengan kebiasaan baru karena ada situasi dan kondisi yang baru, tetap di dalam tuntunan syariah,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *