‘Boogaloo’ Kelompok Sayap Kanan Tunggangi Demo George Floyd

oleh -282 views
Mengenal Boogaloo, Ekstremis Bersenjata yang Muncul di Tengah Demo di Amerika. (Copyright 2020 The Associated Press. All rights reserved)

TEWASNYA lelaki kulit hitam bernama George Floyd, yang dicekik oleh polisi Minneapolis Derek Chauvin, memicu gelombang unjuk rasa di Amerika Serikat sepanjang sepekan terakhir. Sayangnya, aksi menuntut keadilan ini malah dinodai sejumlah oknum pemecah belah bangsa.

Dahlan Iskan dalam tulisannya berjudul Boogaloo Kecil, kelompok Boogaloo selalu ingin menunggangi apa saja. Mereka menyadari kelompok itu sangat kecil. Awalnya ingin memanfaatkan demo-demo anti-lockdown. Yang puncaknya terjadi di Michigan.

“Bulan lalu. Tapi yang tiga orang itu jauh dari Michigan. Mereka tinggal di Las Vegas –nun di wilayah barat. Mereka juga mengincar momen demo anti-lockdown. Siapa tahu bisa ditunggangi. Disiapkanlah bom molotov dan gas dalam tabung. Untuk membuat demo itu nanti rusuh. Tapi demo anti-lockdown di Las Vegas ternyata kecil. Sulit ditunggangi. Sebulan kemudian ulam pun tiba: George Floyd tewas. Orang berkulit hitam itu tewas di tangan polisi kulit putih. Di Minneapolis. Muncullah demo besar anti-rasis,” demikian tulis Dahlan Iskan, Minggu (7/6).

Dari penelusuran beritaradar.com di beberapa sumber beberapa dari mereka menghadiri aksi sambil bawa senjata, sementara lainnya bersembunyi di balik layar gadget untuk memprovokasi tindakan kekerasan terhadap demonstran kulit hitam.

Boogaloo Bois adalah kelompok ekstremis sayap kanan anti-pemerintah. Mereka dikabarkan ikut demonstrasi—yang diselenggarakan oleh anggota masyarakat dan Black Lives Matter serta didukung gerakan antifasis—untuk melancarkan agendanya.

Kehadiran mereka bisa dikenali dari kemeja Hawaii. Kelompok bersenjata ini antipati terhadap penegakan hukum, dan mereka berpura-pura mendukung orang kulit hitam untuk memicu kekerasan atau perang saudara (sering disebut dengan istilah “boogaloo”). Artikel Bellingcat mengekspos Boogaloo Bois sangat mempermasalahkan aksi brutal aparat polisi.

Uniknya, mereka menyamakan korban pertikaian antara agen FBI dan nasionalis kulit putih di Ruby Ridge pada 1992 dengan korban kekerasan polisi seperti Floyd. Berbeda dari mayoritas pengunjuk rasa, Boogaloo Bois tidak mau mengakui bahwa brutalitas polisi sangat memengaruhi kehidupan warga kulit hitam di AS.

Jurnalis investigasi Bellingcat mengumpulkan laporan kehadiran Boogaloo Bois dalam aksi protes pada utas Twitter. Dia juga menyertakan rekaman suara (diubah dari video atas permintaan aktivis) aksi massa yang merebut pistol dari agitator “nasionalis kulit putih”. Menurutnya, anggota Boogaloo Bois ini membuat kegaduhan.

Foto seorang anggota yang membentangkan bendera kelompok dalam demonstrasi Minneapolis dibagikan pada sejumlah laman Facebook Boogaloo.

Seorang pengunjuk rasa mengunggah selfie mengenakan masker gas ke Instagram dengan tagar #Boogaloo.

Beberapa mengaku sebagai libertarian, sedangkan lainnya tak jarang bersikap rasis. Mereka menunjukkan keinginan melakukan kekerasan secara terang-terangan. Anggota kelompok ini juga aktif di media sosial. Tagar #boogaloo dibanjiri meme provokasi beberapa hari terakhir. Mereka berharap ini adalah awal dari perang saudara.

Walaupun milisi sejenis lainnya memiliki perspektif yang sama, mereka biasanya memandang diri sebagai penengah antara penegak hukum dan warga sipil. Contohnya seperti dua lelaki kulit putih bersenjata yang diwawancarai oleh media independen Minnesota Reformer di toko tembakau Minneapolis pekan lalu. Mereka melindungi pelaku usaha dari penjarah, tapi juga membela warga sipil jika diperlukan.

“Polisi cenderung takkan melanggar hak orang lain jika ada orang bersenjata di sekitar mereka,” ujar seorang lelaki.

Aktivitas lokal menemukan kelompok lain selama aksi di Minneapolis, dan mengidentifikasi mereka sebagai anggota III% — salah satu jaringan milisi terbesar di AS.

Yang paling parah adalah “akselerasionis”. Mereka mendorong para pengikut neo-Nazi untuk menyerang demonstran kulit hitam dalam unjuk rasa. Mereka bertujuan “memperkeruh ketegangan etnis” dan memicu “perang ras”.

Kelompok satu ini menggaungkan kekerasan untuk mempercepat perpecahan. Pada Kamis, kanal Telegram eco-fasis menyebarkan pesan “pembunuhan paling pas dilakukan saat kerusuhan” kepada hampir 2.500 pengikut. Akselerasionis sering menunggangi kerusuhan politik atau sipil. Aksi protes yang meluas di seluruh penjuru negeri adalah kesempatan terbaik mereka. Situs 4chan dipenuhi orang-orang rasis yang mendukung kekerasan. Mereka juga sudah tak sabar menantikan “perang ras”. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *