Amerika Serikat Dan China Diambang Peperangan

oleh -99 views
lustrasi bendera China dan Amerika Serikat. (Foto: Reuters)

JAKARTA-AS tampaknya telah memutuskan untuk terlibat dalam perang dingin baru dengan China. Tuntutan agar China menutup konsulatnya di Houston adalah langkah terbaru di front ini. Langkah itu dibalas oleh China yang memerintahkan penutupan konsulat AS di Chengdu. Setiap langkah meningkatkan kemungkinan dua ekonomi terbesar di dunia ini tersandung dan terjerumus ke jurang konflik militer.

China telah terlibat dalam perilaku yang bertentangan dengan kepentingan AS dalam beberapa tahun terakhir. China telah lama terlibat dalam pencurian kekayaan intelektual. Negara itu juga telah membatasi kebebasan yang dijanjikannya untuk penduduk Hong Kong. Ditambah lagi, upaya awal China untuk menyembunyikan virus corona telah memfasilitasi penyebaran virus. Namun, ada cara yang efektif dan cara yang merusak untuk menangani masalah seperti itu. AS tampaknya telah memilih cara yang kedua.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pergi ke London pada Juli untuk “membangun koalisi” melawan China. Maksudnya, kata Pompeo, adalah “bekerja secara kolektif untuk meyakinkan Partai Komunis China bahwa terlibat dalam perilaku semacam ini bukanlah kepentingan terbaik mereka.”

Sebelum kunjungan ini, dan sebelum memerintahkan China untuk menutup konsulatnya di Houston, Amerika Serikat telah mengambil tindakan keras terhadap China, termasuk menghapus status perdagangan khusus Hong Kong, memberikan sanksi kepada pejabat China, menyalahkan China atas virus corona, meningkatkan aktivitas angkatan laut untuk menantang klaim China di Laut China Selatan.

Sebagai tanggapan sejauh ini, China telah meningkatkan operasi militernya sendiri di Laut China Selatan, dan tanggapan mereka terhadap penutupan konsulat Houstonnya cepat dan dapat diprediksi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin menyatakan, langkah untuk menutup konsulat mereka adalah “pelanggaran berat terhadap hukum internasional… dan upaya yang disengaja untuk merusak hubungan China-AS.” Tidak mengejutkan jika China menutup konsulat AS sebagai pembalasan.

Kemungkinan besar, baik AS maupun China akan melanjutkan aksi/kontra-aksi mereka. Jenis keterlibatan yang memburuk ini meningkatkan peluang konflik militer, menurut peneliti senior Defense Priorities, Daniel L. Davis, di The National Interest. Sayangnya, tampaknya tidak ada tanda-tanda akan ada pendinginan dalam konflik ini.

Banyak yang tampaknya percaya, AS dapat mengambil tindakan apa pun yang mereka inginkan dan tidak akan pernah ada hasil negatif. Gagasan ini, dalam mode sejak selesainya Badai Gurun pada 1991 dan runtuhnya Uni Soviet pada 1992 tidak mencerminkan kenyataan saat ini.

China secara intens mempelajari cara perang Amerika di Badai Gurun. Negara itu tersengat dengan peristiwa memalukan pada 1996 ketika Presiden Bill Clinton memerintahkan kapal induk untuk berlayar langsung melalui Selat Taiwan untuk memaksa China mundur dari mengancam Taiwan.

Peristiwa itu memulai transformasi besar-besaran militer China selama beberapa dekade, dari bagaimana mereka mengatur perang, doktrin mereka, hingga modernisasi drastis senjata perang, semuanya dirancang untuk mengalahkan serangan Amerika terhadap China.

China saat ini bukan lagi pasukan infanteri-sentris yang telah kehilangan ratusan ribu tentara dalam perang Korea, dan tidak lagi memiliki militer kuno yang mundur setelah diancam Amerika pada 1996. Para pemimpin komunis telah mereformasi angkatan bersenjata mereka menjadi militer modern, mematikan, dan kuat yang dapat mempertahankan perbatasannya bahkan terhadap Amerika Serikat. Meremehkan kemampuan China untuk melawan Amerika Serikat di wilayah asalnya akan menjadi kesalahan besar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *