Beginilah Analisa Ledakan Beirut Versi Trump

oleh -146 views
Petugas pemadam kebakaran saat bergegas mendatangi lokasi ledakan di Beirut, ibu kota Lebanon, Selasa, 4 Agustus 2020. (Foto: STR/AFP/Getty Images)

JAKARTA-Ledakan yang mengguncang ibu kota Lebanon pada Selasa (4/8) dan menyebabkan gempa bumi dahsyat setelahnya tidak hanya karena kelalaian dan korupsi, tetapi mungkin telah dipicu oleh “serangan,” kata Presiden Lebanon Michel Aoun Jumat (7/8), dalam pernyataan yang diunggah ke Twitter.

“Ada dua kemungkinan. Entah itu akibat kelalaian, atau gangguan eksternal oleh rudal atau bom,” ujar Aoun.

Itu adalah pengakuan pertama tentang kemungkinan serangan oleh seorang pejabat terkait sejak Presiden AS Donald Trump berbicara terus terang setelah arahan intelijen pada Selasa (4/8). Itu juga menguatkan pengakuan yang diperoleh dari wawancara dengan berbagai sumber pertahanan dan keamanan Lebanon dan Amerika sejak ledakan itu.

Pemimpin Lebanon itu, yang telah mempertahankan perjanjian dengan Hizbullah sejak 2006, menolak seruan untuk penyelidikan internasional atas insiden tersebut.

“Jika kita tidak bisa mengatur diri kita sendiri, maka tidak ada yang bisa mengatur kita,” tegasnya.

Presiden AS Donald Trump tiga hari sebelumnya mengatakan insiden itu adalah serangan yang disengaja.

“Izinkan saya mulai dengan menyatakan duka cita terdalam Amerika kepada rakyat Lebanon, di mana laporan menunjukkan bahwa banyak sekali orang tewas, ratusan lainnya terluka parah dalam ledakan besar di Beirut,” tutur Trump kepada wartawan dengan muram, kira-kira enam jam setelah ledakan melanda Beirut.

“Itu terlihat seperti serangan yang mengerikan,” katanya.

Pemimpin AS tersebut sebelumnya telah menerima pengarahan intelijen pada pukul 2 siang. Ketika ditanya oleh seorang reporter untuk mengklarifikasi kesimpulannya, Trump berkata, “Saya telah bertemu dengan beberapa jenderal besar kita … Ini bukanlah semacam peristiwa ledakan pabrik.”

Dia menambahkan, “Mereka sepertinya berpikir itu adalah serangan. Itu semacam bom, ya.”

Penilaian bom datang dengan latar belakang serentetan konfrontasi antara Israel dan Hizbullah, dan serangkaian kebakaran dan ledakan di situs militer sensitif di Iran.

Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah dalam pidatonya pada Jumat (7/8) mengatakan, hanya penyelidikan yang akan mengungkap penyebab bencana dan menegaskan kelompoknya tidak memiliki kehadiran militer di pelabuhan.

Israel beberapa hari sebelumnya juga menyangkal keterlibatan dalam bencana manusia itu, dengan Menteri Luar Negeri Gabi Ashkenazi menyatakan kepada televisi Israel N12, ledakan itu kemungkinan besar merupakan kecelakaan.

Presiden Aoun pada Jumat (7/8) menyatakan Lebanon akan melakukan penyelidikan sendiri dan tidak ada yang akan ditangkap sampai penyelidikan selesai. Penyelidikan internasional, yang diupayakan oleh Menteri Kehakiman dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, akan mengaburkan kebenaran, menurut Aoun. Meski demikian, banyak yang meyakini sebaliknya.

Di Lebanon, “tidak ada yang terjadi di tempat-tempat sensitif (bandara, perbatasan, pelabuhan) yang tidak terkait dengan konflik antara Hizbullah dan Israel,” ujar mantan sumber intelijen militer Lebanon berpangkat tinggi kepada Asia Times.

Ledakan itu, dia menilai, bukanlah kecelakaan. Trump, katanya, tidak mampu menjaga rahasia.

Pejabat keamanan tertinggi Lebanon telah memberi tahu publik, amonium nitrat seberat 2.750 ton, yang disita dan disimpan oleh Bea Cukai Pelabuhan Beirut pada 2013, adalah sumber ledakan terakhir apokaliptik.

Kepala Bea Cukai Lebanon Badri Daher, tokoh terkenal yang telah lama dirundung tuduhan korupsi, menyebutkan gudang kembang api di dekat timbunan yang mematikan itu yang menyebabkan ledakan awal.

“Penyimpanan yang tidak tepat dapat menciptakan bahaya ledakan yang dapat dimulai secara alami atau sengaja,” menurut Al Johnson, veteran ahli pembuangan persenjataan peledak Angkatan Darat AS, dilansir dari Asia Times.

Namun skenario kembang api itu disambut dengan skeptisisme yang intens, mengingat bahaya yang jelas akan muncul dari penyimpanan dua hal yang sama-sama mudah meledak.

“Saya tidak percaya ada amonium nitrat sebanyak itu di pelabuhan Beirut, dan gudang kembang api,” ucap ahli bahan peledak Danilo Coppe kepada Italia Corriere.

“Ketika amonium nitrat meledak, itu menghasilkan awan kuning yang khas. Sebaliknya, dari video ledakan, selain bola putih yang terlihat mengembang (yang merupakan kondensasi udara laut) kita dapat dengan jelas melihat kolom oranye bata yang cenderung merah terang, ciri khas partisipasi litium. Lithium-metal adalah propelan untuk rudal militer, jadi saya pikir ada persenjataan di sana.”

“Sepertinya ledakan gudang persenjataan,” kata Coppe.

Ahli bahan peledak militer AS, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan kepada Asia Times,  ledakan itu merupakan “tindakan sabotase” terhadap hanggar, yang tidak hanya menyimpan amonium nitrat, tetapi juga rudal jarak pendek, yang diduga disita di sana.

Menurut penjelasan resminya, Hangar No. 12 yang sekarang terkenal itu digunakan sebagai penampung semua barang berbahaya dan ilegal yang disita oleh otoritas Bea Cukai. Namun publik belum diberi penjelasan yang kredibel mengapa amonium nitrat ditempatkan di samping barang berbahaya lainnya.

Pengaturan yang aneh itu telah menimbulkan kecurigaan bahwa amonium nitrat itu mungkin berfungsi sebagai kedok untuk penyimpanan senjata di sana.

“Saya telah berbicara dengan beberapa orang militer Lebanon, semuanya setuju ini adalah gudang senjata yang meledak setelah serangan pertama, dan amonium nitrat itu tidak akan menyala tanpa sumbu,” kata Riad Kahwaji, kepala Institut Analisis Militer Timur Dekat dan Teluk yang berbasis di Dubai.

Menurut keterangannya, tentara Lebanon tidak menyimpan senjata atau amunisi di pelabuhan.

“Semuanya langsung dipindahkan ke barak. Tidak ada bahan peledak yang diizinkan untuk tinggal di pelabuhan,” imbuh Kahwaji. “Kalau bukan tentara, siapa lagi yang punya gudang senjata?”

Pemimpin Hizbullah Nasrallah, dalam pidato yang disiarkan televisi pada Jumat (7/8), menekankan pihaknya tidak memiliki gudang senjata di pelabuhan dan tidak terkait dengan konten di Hangar 12.

“Hizbullah mungkin lebih mengenal pelabuhan Haifa daripada pelabuhan Beirut,” katanya.

Pada 2016, Nasrallah mengatakan rudal kelompok Syiahnya mampu menyerang gudang amonia rahasia di pelabuhan Israel utara dan menciptakan ledakan yang setara nuklir, yang katanya akan menciptakan “keseimbangan teror”.

Sebaliknya, penyimpanan tersembunyi di Pelabuhan Beirut-lah yang melukai rakyatnya sendiri.

Kehancuran yang hampir total di Pelabuhan Beirut itu terjadi satu tahun setelah Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon menuduh pihak berwenang Lebanon mengizinkan fasilitas itu menjadi “pelabuhan Hizbullah.”

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada 2018 menuduh Hizbullah “menggunakan orang-orang tak berdosa di Beirut sebagai perisai manusia”. “Israel tidak akan membiarkan kalian lolos begitu saja,” katanya.

Sejumlah analis pertahanan Lebanon meyakini Israel kemungkinan melakukan serangan itu, tetapi tidak berniat untuk melakukan kerusakan sebesar ini.

“Ini kecelakaan,” tutur Kahwaji kepada Asia Times.

“Semua orang terkejut dengan besarnya ledakan, termasuk orang Israel sendiri, dan karenanya mereka tidak mau bertanggung jawab. Hizbullah tidak akan mengatakannya karena mereka tidak ingin mengakui mereka memiliki senjata di ibu kota.”

Penemuan seperti itu akan berimplikasi pada setiap pemerintah Lebanon selama enam tahun terakhir, yang sudah di bawah pengawasan ketat atas kelalaiannya. Itu juga menunjukkan, Hizbullah telah membahayakan konstituen sekutu Kristen mereka di Beirut Timur.

Ledakan telah berubah menjadi kemarahan di Beirut, seiring warga Lebanon mengetahui tiga kiloton stok amonium nitrat, atau bisa dibilang ‘bom de facto’, telah tersimpan di ibu kota mereka selama enam tahun terakhir.

Hari Rabu sampai Jumat ditetapkan menjadi hari berkabung nasional. Pada Sabtu (8/8), demonstran Lebanon akan turun ke jalan sekali lagi, kali ini, ribuan dari mereka baru saja kehilangan teman, keluarga, rumah, dan mata pencahariannya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *