Inilah 3 Faktor Indeks Ketahanan Pangan Anjlok

oleh -28 views

JAKARTA-Daya beli yang masih rendah akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan diperkirakan akan berdampak pada penurunan indeks ketahanan pangan pada akhir 2020 nanti.

Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian sebagai penyumbang tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II/2020, yakni 16,24 persen dan secara tahunan berkontribusi 2,19 persen.

Pengamat pertanian sekaligus Guru Besar IPB University Dwi Andreas Sentosa mengatakan pelemahan daya beli masyarakat mengakibatkan angka kemiskian akan bertambah baik di perkotaan maupun di pedesaan.

Nah, kondisi demikian, Dwi Andreas memperkirakan indeks ketahanan pangan akan lebih rendah dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 62,2 persen.

“Saya perkirakan indeks ketahanan pangan tahun ini akan terjun di angka 50. Bahkan hingga di tahun 2021,” ujarnya dalam video daring terkait Resesi Ekonomi dan Pengaruhnya terhadap Ketahanan Pangan, kemarin (17/9).

Dwi Andreas menyebutkan ada tiga faktor yang menyebabkan indeks ketahanan pangan turun. Pertama, penurunan produktivitas padi yang terjadi setiap tahun berpengaruh terhadap stok beras.

Lalu kedua, kapasitas masyarakat untuk mengakses pangan mengalami penurunan. Terakhir, karena kapasitas masyarakat turun, maka kualitas pangan ikut terdampak menurun. “Jadi agregat dari tiga faktor tersebut yang membuat indeks ketahanan pangan juga ikut turun,” katanya.

Kendati demikian, Dwi Andreas memastikan krisis pangan seperti yang diingatkan oleh Organisasi Pangan Dunia (FA) tidak akan terjadi di Indonesia. Ini karena ketersediaan pangan, terutama kebutuhan utama beras relatif cukup besar, bahkan di pasar internasional.

“Penurunan indeks ketahanan pangan ini bukan disebabkan faktor ketersediaan (pangna), akan tetapi kemampuan akses pangan masyarakat,” jelasnya.

Soal sektor pertanian tumbuh positif dibandingkan sektor lainnya. Menurut Dwi Andreas lantaran pola panen padi yang mengalami pergeseran satu bulan. “Pola panen padi selama ini puncak panen terjadi pada Februari hingga Maret, tapi tahun ini menjadi April hingga Mei,” ucapnya.

Untuk kuartal ketiga ini, dia memproyeksikan terjadi penurunan yang cukup tajam, bahkan penurunan masih terjadi pada kuartal keempat. Hal ini karena pola produksi pangan, terutama padi memang dari tahun ke tahun seperti itu di mana pada kuartal keempat akan lebih rendah dari kuartal ketiga dan kedua.

“Jadi kuartal ke kuartal akan turun, tapi Produksi Domestik Pertanian masih ditolong dengan devisa dari kelapa sawit,” tuturnya.

Kesempatan yang sama, anggota Komisi IV DPR RI Mindo Sianipar berpandangan, dampak pandemi Covid-19 telah menyebabkan bertambahnya angka pengangguran di Tanah Air karena terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mereka yang tidak bekerja pada akhirnya banyak yang memilih untuk pulang ke kampung halamannya. Untuk itu, dia berharap pemerintah daerah (pemda) dapat menyerap tenaga kerja khususnya di sektor pertanian.

“Dalam kondisi pandemi, jangan disamakan bantuan ke masyarakat seperti mengatasi banjir dengan bantuan berton-ton beras yang langsung habis, tapi bagaimana memanfaatkan dan optimalkan pern desa. Intinya, negara harus harus hadir dalam memberikan stimulus desa,” ujarnya.

Sebelumnya, Staf Subdit Pengelolaan Konsumsi Gizi Direktorat Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Kartika Wahyu Dwi Putra mengatakan, indeks ketahanan pangan akan mengalami penurunan di berbagai daerah. Hal ini diakibatkan pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, sehingga menyebakan inflasi, kesulitan akses pangan, hingga kenaikan harga pangan.

“Kita tahu di April ini inflasinya mencapai 2,7 persen. Di 2,7 persen ini makanan ataupun minuman sudah 5,3 persen terjadi kenaikan harga pangan. Dengan inflasi juga hampir 1,1-3,8 juta orang jatuh ke dalam garis kemiskinan. Sekitar 56,5 persen merupakan pekerja informal,” ujarnya. (din/fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *