Misteri Kebakaran Gedung Kejagung, Polisi: Ada Unsur Pidana

oleh -47 views
Warga menyaksikan petugas pemadam kebakaran melakukan proses pendinginan di gedung utama Kejaksaan Agung yang terbakar di Jakarta, Minggu (23/8/2020) (Antara Foto)

JAKARTA-Kepolisian menyatakan kebakaran yang melanda gedung Kejaksaan Agung diduga kuat bukan disebabkan arus pendek, melainkan unsur pidana.

Kesimpulan itu didasarkan hasil penyelidikan tim kepolisian atas temuan di tempat lokasi kejadian dan pemeriksaan terhadap 131 orang saksi.

“Sementara penyidik berkesimpulan terdapat dugaan peristiwa pidana,” kata Kabareskrim Polri, Listyo Sigit Pramono, usai menggelar gelar perkara bersama sejumlah pejabat Kejagung, Kamis (17/09) siang.

“Puslabfor menyimpulkan bahwa sumber api tersebut bukan karena hubungan arus pendek namun diduga karena open flame atau nyala api terbuka,” lanjut Sigit

Gedung Kejaksaan Agung mulai terbakar pada Sabtu petang, 22 Agustus 2020 lalu, dan baru bisa dipadamkan keesokan harinya, Minggu pagi, 23 Agustus 2020.

Kebakaran gedung Kejagung ini sempat menimbulkan spekulasi di masyarakat, yang mengaitkan dugaan keterlibatan seorang jaksa dalam eksekusi kasus korupsi Djoko Tjandra.

Tuduhan ini dibantah Kejaksaan Agung dan sejumlah pejabat terkait kemudian meminta masyarakat tidak berspekulasi atas penyebab kebakaran tersebut.

Dalam berbagai kesempatan, otoritas Kejagung menyatakan bahwa berkas-berkas penting -di antaranya berkas perkara Djoko Tjandra- tidak ikut terbakar.

Lebih lanjut Listyo mengatakan pihak kepolisian dan Kejaksaan Agung sepakat meningkatkan status penyelidikan menjadi penyidikan terkait kebakaran tersebut.

“Kita sepakat dalam gelar tadi untuk meningkatkan penyelidikan menjadi penyidikan dengan dugaan Pasal 187 dan Pasal 188 KUHP,” kata Komjen Listyo Sigit Prabowo.

Kejaksaan Agung menyatakan pihaknya mengapresiasi hasil penyelidikan kepolisian yang mengungkap ada unsur pidana dalam kebakaran gedung utama Kejagung.

“Pada prinsipnya, pimpinan Kejaksaan Agung mendukung penuh pengungkapan peristiwa pidana ini,” kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) Fadil Zumhana, Kamis (17/09).

Dia mengatakan, sejak awal Kejagung bersungguh-sungguh mengungkap peristiwa kebakaran tersebut. Dia juga mengatakan pihaknya selalu bekerja sama dengan polisi.

“Ini kami lakukan secara bersama-sama sejak awal terbentuknya posko bersama di Kejaksaan Agung,” ujarnya.

“Sehingga kami sepakat pada semua untuk lebih detil mengungkap peristiwa pidana ini. Tentu harus ditingkatkan ke penyidikan, penyelidikan, itu gunanya untuk membuat terang satu peristiwa pidana, menemukan tersangka dan bukti-bukti yang terkait dengan peristiwa pidana itu,” jelasnya.

Menurutnya, Jaksa Agung ST Burhanuddin bersungguh-sungguh agar kasus ini dilakukan secara transparan. Dia meminta semua pihak memantau penuntasan kasus kebakaran ini.

“Pada rekan-rekan media juga kami persilakan memantaunya baik penyidikan maupun penuntutan di persidangan,” tambahnya.

Dalam keterangan lainnya, Kabareskrim Polri, Listyo Sigit Pramono mengatakan, pihaknya sudah memeriksa 131 orang saksi.

Mereka adalah petugas kebersihan, office boy, pegawai Kejagung, sejumlah jaksa, serta sejumlah ahli kebakaran dan pidana.

“Kami kemudian melakukan pendalaman lebih lanjut di dalam proses penyelidikan,” kata Listyo.

Adapun barang bukti yang diamankan adalah CVR kamera pengawas (CCTV), abu arang sisa kebakaran, potongan kayu sisa kebakaran, beberapa botol plastik berisi cairan, serta jirigen berisi cairan.

Barang bukti lainnya adalah kaleng bekas lem, kabel atau instalasi listrik, minyak pembersih. “Semuanya disimpan di gudang cleaning service,” katanya.

Disebutkan api muncul dari lantai enam gedung Kejagung, yaitu ruang rapat biro kepegawaian, dan kemudian menjalar ke ruangan serta lantai lain.

“[Kobaran api] Yang dipercepat terjadi karena adanya akseleran pada lapisan luar di gedung dan ada beberapa cairan yang mengandung senyawa hidro karbon serta kondisi gedung yang hanya disekat oleh bahan yang mudah terbakar,” papar Listyo.

Dari hasil olah TKP, menurut Listyo, Puslabfor menyimpulkan bahwa sumber api tersebut bukan karena hubungan arus pendek.

“Namun diduga karena oleh ‘nyala api terbuka’ (open flame),” ujarnya.

Dan pada saat kejadian, mulai 11.30 sampai 17.30 WIB, kepolisian mendapati “ada beberapa tukang dan orang-orang yang berada di lantai enam ruang biro kepegawaian yang sedang melakukan kegiatan renovasi.”

“Sehingga itu yang kemudian salah-satu yang kami dalami,” tambahnya.

Tim puslabfor juga mendapati fakta “ada saksi yang mengetahui dan berusaha memadamkan kebakaran tersebut”.

“Namun karena tidak terdukung oleh infrastruktur dan sarana-prasarana yang memadai, sehingga kemudian api tersebut semakin membesar,” ungkap Listyo.

Ketika api makin membesar, pihak Kejagung meminta pertolongan tim pemadaman kebakaran. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *