Psikolog: Gangguan Mental Karena Pandemi Harus Direspon Pemerintah

oleh -63 views
Herlina S Dhewantara, Psikolog

PAKAR kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan, pandemi Covid-19 telah menyebabkan krisis kesehatan mental. Pandemi telah membuat seluruh warga dunia terpaksa menjalani karantina secara nasional atau lockdown serta terjadi kekacauan ekonomi.

“Isolasi, ketakutan, ketidakpastian, kekacauan ekonomi, itu semua dapat menyebabkan tekanan psikologis,” ujar Direktur Departemen Kesehatan Mental Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Devora Kestel.

Kestel mengatakan, peningkatan kasus gangguan kesehatan mental kemungkinan terjadi selama pandemi Covid-19. Oleh karena itu, pemerintah harus menempatkan masalah kesehatan mental sebagai prioritas.

“Kesehatan mental dan kesejahteraan seluruh masyarakat sangat dipengaruhi oleh krisis ini dan merupakan prioritas yang harus segera diatasi,” ujar Kestel.

Dalam sebuah laporan yang disampaikan oleh Kestel, anak-anak dan remaja yang terisolasi dari teman serta sekolah berisiko mengalami gangguan kesehatan mental. Selain itu, petugas kesehatan yang menangani pasien infeksi virus corona tipe baru penyebab Covid-19 juga rentan terkena gangguan penyakit mental.

Para psikolog mengatakan, anak-anak merasa cemas dan terjadi peningkatan dalam kasus depresi di beberapa negara. Selain itu, kekerasan dalam rumah tangga meningkat dan petugas kesehatan melaporkan peningkatan kebutuhan akan dukungan psikologis.

Bersama Harian Rakyat Cirebon, Psikolog, Herlina S Dhewantara, mengungkapkan krisis kesehatan mental bisa terjadi dengan kondisi pandemi Covid-19 ini karena hal-hal yang kita lihat di sekitar kita menimbulkan perasaan-perasaan tidak nyaman.

“Perasaan tidak nyaman akan memicu munculnya stress psikologis dan kemungkinan akan berkelanjutan jika kita tidak berupaya mengatasinya,” ungkap Herlina yang juga sebagai Konsultan Psikologi dinamikaGaMa, Kamis (10/9).

Krisis kesehatan mental membayangi dunia karena saat ini jutaan orang di berbagai negara dikelilingi oleh kematian dan penyakit, serta terpaksa menjalani karantina, kemiskinan, dan kecemasan, akibat pandemi Covid-19. Bagaimana tanggapan Anda?
Krisis kesehatan mental bisa terjadi dengan kondisi pandemi covid 19 ini karena hal-hal yang kita lihat di sekitar kita menimbulkan perasaan-perasaan tidak nyaman. Perasaan tidak nyaman akan memicu munculnya stress psikologis dan kemungkinan akan berkelanjutan jika kita tidak berupaya mengatasinya. Dengan makin melonjaknya jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19, khususnya di daerah Cirebon makin membuktikan bahwa virus memang ada di sekitar kita.

Peningkatan jumlah dan keparahan gangguan mental seharusnya membuat pemerintah menempatkan isu ini sebagai yang yang utama dalam responnya. Bagaimana menurut pandangan Anda sebagai Psikolog?
Penanganan gangguan mental karena pandemi memang seharusnya menjadi respon pemerintah dengan melibatkan para psikolog untuk memberikan edukasi tentang kesehatan mental dan memberikan latihan-latihan penanganan yang sederhana saat orang mulai merasa tidak nyaman terhadap sisi psikisnya. Ibaratnya jika merasa tidak nyaman karena flu kita bisa mengambil obat dari kotak P3K. Begitu juga halnya jika kita merasa tidak nyaman karena psikis, yang dalam istilah psikologi dikenal dengan Psychological First Aid. Kita perlu mengenali dan peka terhadap “alarm” dari perasaan kita sehingga dapat segera melakukan antisipasi agar pikiran dan perasaan kita tetap positif. Imunitas kita akan menurun jika psikis kita juga mengalami gangguan, terlebih di masa pandemi imunitas tubuh diharapkan tetap terjaga.

Anak-anak sebenarnya juga cemas. Selain itu, ditemukan juga peningkatkan gangguan depresi dan kecemasan pada anak di beberapa negara. Bisa Anda jelaskan?
Gangguan depresi dan kecemasan pada anak dapat terjadi karena pandemi ini memberikan ruang terbatas bagi mereka. Pembelajaran online, tidak bebas bermain dan banyak hal menjadi serba dibatasi. Namun perlu juga disadari bahwa rasa tidak nyaman anak akan teratasi jika orangtua merekapun mampu menunjukkan ketenangan dan memberikan rasa nyaman pada anak-anaknya saat berada di rumah dan mau tidak mau menghadapi perubahan kebiasaan dalam hal belajar, bermain dan beraktivitas. Orangtua sebagai figur identifikasi anak-anak perlu menghadirkan energi-energi positif di dalam rumah dengan menunjukkan keharmonisan, saling menguatkan, menenangkan dan memberikan pemaparan yang membuat anak tenang terutama jika berkaitan dengan berita-berita tentang covid. Saat menemani anak belajarpun orangtua harus bersikap positif dan tenang, sagar proses belajar daring yang baru pertama kali dijalani anak menjadi menyenangkan sehingga materi belajarpun dapat dipahami anak dengan baik.

Apa saran Anda dalam penanganan krisis kesehatan mental di era pandemi?
Pastinya tetap mengikuti protokol covid dari Pemerintah, yaitu 3M (Memakai masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan). Tumbuhkan perasaan positif saat memulai hari dan yakinlah bahwa covid akan segera berlalu. Beraktivitas yang menyenangkan, misalnya olahraga rutin, ngobrol secara online dengan teman-teman, melakukan hal-hal baru misalnya memasak , menata ulang ruangan. Untuk membantu orang-orang di sekitar kita yang mengalami krisis kesehatan mental ada baiknya mulai mengenal teknik-teknik PFA (Psychological First Aid), yaitu memberikan dukungan sosial dan emosional serta cara-cara praktis, karena teknik ini akan membantu resiko gangguan mental, memberikan self healing dan memberikan harapan pada orang-orang yang mengalami penderitaan. (wb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *