Potensi Tsunami di Jalur Pertemuan Lempengan Gempa dari Sumatera hingga Nusa Tenggara

oleh -22 views
Ilustrasi - Alat pendeteksi gempa dan gelombang tsunami. ANTARA/HO BMKG/am.

JAKARTA – Potensi tsunami di Indonesia bisa terjadi di sejumlah wilayah di jalur pertemuan lempengan gempa. Potensi itu memanjang dari Sumatera hingga Nusa Tenggara.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono mengatakan banyak wilayah di Indonesia berpotensi diterjang tsunami. Tidak hanya di Jawa bagian seletan. Tapi juga di daerah yang berada di sepanjang jalur lempengan gempa di dalam laut.

“Jadi ancaman tsunami tidak hanya di selatan Jawa. Di sepanjang jalur pertemuan lempeng, di mana itu ada sumber gempa dan itu di laut sumber gempanya dengan magnitude besar, ya itu bisa berpotensi tsunami,” katanya, Jumat (24/9).

Dijelaskannya, Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak daerah pertemuan lempeng. Sehingga potensi tsunami dapat saja terjadi di banyak tempat. Sebab ada jalur Sunda Megathrust yaitu zona subduksi antara Lempeng India-Australia dengan Lempeng Eurasia. Sunda Megathrust merentang dari pantai barat Sumatera hingga Kepulauan Nusa Tenggara. Adapun jarak antara Pulau Jawa dan Sumatera ke jalur megatrhust sekitar 200-250 km.

“Potensi tsunami itu dapat terjadi di sepanjang daerah pertemuan lempeng tektonik, mulai dari Laut Andaman di bagian Tenggara Pulau Sumatera, di Simeulue, Nias, Mentawai, Enggano hingga ke bagian selatan Jawa sampai ke Nusa Tenggara,” ungkapnya.

Dikatakannya, potensi tsunami dapat diketahui melalui berbagai hasil riset terhadap temuan-temuan endapan tsunami di masa lampau.

“Jadi dari endapan-endapan tersebut bisa diketahui bahwa suatu daerah pernah terjadi tsunami. Itu sudah dihitung dengan karbon sehingga bisa ketahuan diendapkan tahun berapa itu. Artinya di situ pernah terjadi tsunami,” kata dia.

Terkait gempa yang menimbulkan tsunami, dia menyebut memiliki periode kejadian hingga ratusan tahun. Potensi gempa berdampak tsunami bisa terulangnya sangat besar dalam kurun waktu yang lama.

“Tergantung perulangan sebelumnya, tahun berapa pernah terjadi dan kapan akan terjadi berikutnya,” ujarnya.

Rahmat juga mengapresiasi riset dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menyebutkan kemungkinan potensi tsunami hingga 20 meter di pantai selatan Jawa Barat dan 12 meter di selatan Jawa Timur.

“Kita apresiasi, karena itu artinya juga memberikan edukasi ke masyarakat kita semua, mengingatkan bahwa di sana ada ancaman gempa bumi yang berpotensi tsunami. Apalagi didukung data-data yang valid dan juga menggunakan data-data BMKG,” katanya.

Bahkan menurutnya, gelombang lautan raksasa tersebut diperkirakan hanya butuh waktu selama 20 menit untuk sampai pinggir pantai.

“Dari hasil modelling kami, di selatan Jawa kurang-lebih hanya sekitar 20 menit tsunami sudah melanda daratan,” ujarnya.

Ancaman tsunami tersebut bisa saja terjadi. Tetapi dia mengatakan bahwa prediksi tersebut merupakan prediksi dengan skala skenario terburuk.

“Artinya bahwa itu bisa terjadi. Cuma memang itu adalah skala worst case. Jadi skenario terburuk. Belum tentu itu terjadi dengan magnitudo itu,” katanya.

Namun, harus diingat dalam setiap upaya mitigasi bencana, prediksi magnitudo besar merupakan skenario terbaik. Sehingga masyarakat dan pemerintah daerah setempat dapat mengambil langkah-langkah yang lebih tepat dan matang untuk mengatasi ancaman terburuk itu.

“Artinya skenario terburuk adalah menjadi sebuah skenario terbaik dalam upaya mitigasi. Misalnya dalam hal ini skenario terburuknya (magnitudo) 9,1 dengan ketinggian katakan 20 meter. Jadi kita menyiapkan semua infrastrukturnya ya untuk ketinggian 20 meter. Jangan sampai yang disiapkan itu 10 meter, padahal skenario terburuknya 20 meter. Ya itu percuma,” katanya.

Sementara Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengatakan, meski kajian ilmiah yang dilakukan peneliti ITB mampu menentukan potensi magnitudo maksimum gempa megathrust dan skenario terburuk, namun hingga saat ini, belum ada teknologi yang mampu memprediksi dengan tepat kapan dan di mana akan terjadi gempa.

“Skenario model yang dihasilkan merupakan gambaran terburuk (worst case), dan ini dapat dijadikan acuan dalam upaya mitigasi guna mengurangi risiko bencana gempa dan tsunami,” ujarnya.

Ditegaskannya, yang perlu dilakukan adalah upaya mitigasi dengan menyiapkan langkah-langkah konkret agar meminimalkan risiko kerugian sosial, ekonomi dan korban jiwa.

“Informasi tersebut jangan dipertajam untuk menciptakan kecemasan dan kekhawatiran masyarakat. Tapi harus segera direspons dengan upaya mitigasi yang nyata,” ungkapnya.

Untuk itu, Daryono meminta masyarakat jangan resah. Masyarakat harus fokus mitigasi.

Sebelumnya, ITB menyampaikan hasil risetnya. Tsunami diperkirakan terjadi disepanjang pantai selatan Jawa Barat hingga Jawa Timur. Riset ini juga memakai data dari BMKG dan GPS.

Peneliti ITB Sri Widiyantoro menjelaskan tsunami dapat mencapai 20 meter di pantai selatan Jawa Barat dan 12 meter di selatan Jawa Timur, tinggi maksimum rata-rata 4,5 meter di sepanjang pantai selatan Jawa jika terjadi bersamaan.

Berdasarkan permodelan skenario kebencanaan yang dibikin para ilmuwan ITB, tsunami besar itu terjadi bila segmen-segmen megathrust di sepanjang Jawa pecah secara bersamaan.(gw/fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *