Tradisi Kristen Tangani Wabah Selama Ribuan Tahun

oleh -36 views
Ilustrasi Umat Kristen. (Foto: Shutterstock/EPA)

DUNIA modern tiba-tiba menjadi akrab dengan teman perjalanan tertua dalam sejarah manusia: ketakutan eksistensial serta ketakutan akan kematian yang tak terhindarkan dan tak dapat dielakkan. Belum ada vaksin atau antibiotik yang ditemukan untuk menyelamatkan umat manusia dari wabah virus corona baru saat ini. Pengalaman ini cukup asing bagi orang-orang modern, sehingga kita pada umumnya kurang mendapatkan dukungan psikologis dan budaya untuk pencegahan pandemi COVID-19 saat ini.

Untuk menemukan sumber daya moral demi mengatasi COVID-19, seperti potensi tingkat kematian dan ketakutan yang membayangi masyarakat serta sumber daya yang dibangun di masa lalu. Artinya, kita bisa mempelajari kembali bagaimana orang-orang Kristiani dari tradisi Gereja Lutheran telah menangani wabah semacam ini di masa lalu. Sementara orang-orang dari semua kelompok agama dan bahkan kalangan tidak beragama menghadapi penyakit ini, pendekatan khusus terhadap epidemi yang telah diadopsi orang Kristen dari waktu ke waktu layak diungkapkan kembali.

Respons umat Kristen terhadap wabah dan malapetaka dimulai dengan beberapa ajaran Yesus yang paling terkenal:  “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka” (Lukas 6:31); “Kasihilah sesamamu manusia seperti mengasihi dirimu sendiri. ” (Markus 12:31), atau “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13). Sederhananya, etika Kristen di masa wabah menganggap hidup kita sendiri harus selalu dianggap kurang penting daripada kehidupan sesama manusia.

Selama periode wabah di era Kekaisaran Romawi, orang-orang Kristen terkenal dengan tradisi kasih semacam itu. Para sejarawan mencatat, Wabah Antonine mengerikan dari abad ke-2 yang mungkin telah membunuh seperempat Kekaisaran Romawi pada akhirnya menyebabkan penyebaran agama Kristen. Umat Kristiani saat itu konon merawat orang sakit dan menawarkan model spiritual ketika wabah bukanlah pekerjaan dewa-dewa yang marah dan berubah-ubah, tetapi hasil dari Penciptaan yang rusak dalam pemberontakan melawan Kasih Allah.

Epidemi yang lebih terkenal adalah Wabah Siprianus. Namanya berasal dari seorang uskup yang menyampaikan kisah penuh warna tentang penyakit tersebut dalam khotbah-khotbahnya. Diduga sebagai penyakit yang berhubungan dengan Ebola, Wabah Siprianus membantu memicu Krisis Abad Ketiga di peradaban Romawi. Namun, wabah itu juga memicu ledakan pertumbuhan Kristen.

Khotbah Siprianus memberi tahu orang-orang Kristen untuk tidak berduka bagi para korban wabah (yang telah tinggal di surga), tetapi untuk melipatgandakan upaya dalam merawat yang masih hidup. Rekan uskupnya Dionysius menggambarkan bagaimana orang-orang Kristen, “Tanpa peduli bahaya mengambil alih perawatan orang sakit dan memenuhi setiap kebutuhan mereka.”

Bukan hanya orang-orang Kristen yang mencatat reaksi umat Kristiani terhadap wabah. Satu abad kemudian, Kaisar Julianus yang secara aktif menganut pagan mengeluh dengan sengit tentang bagaimana “orang-orang Galilea” merawat bahkan orang-orang sakit yang bukan Kristen.

Sementara itu, sejarawan gereja Pontianus menceritakan bagaimana orang-orang Kristen memastikan, “Kebaikan telah dilakukan untuk semua orang, tidak hanya di keluarga umat beriman.”

Sosiolog dan ahli demografi agama dari Amerika Serikat Rodney Stark mengklaim, tingkat kematian di kota-kota dengan komunitas Kristen mungkin hanya setengah dari kota-kota lain.

Kebiasaan perawatan yang penuh pengorbanan ini telah muncul sepanjang sejarah. Pada 1527, ketika wabah pes melanda Wittenberg, Jerman, profesor teologi dan pendiri gerakan Protestan Martin Luther menolak panggilan untuk melarikan diri dari kota dan melindungi dirinya sendiri. Sebaliknya, ia tetap tinggal dan melayani orang sakit.

Penolakan untuk melarikan diri tersebut telah mengorbankan putrinya Elizabeth. Namun, pengorbanan itu juga menghasilkan risalah, “Whether Christians Should Flee the Plague”, ketika ia menuturkan secara jelas tentang respons epidemi oleh umat Kristen: Kita mati di pos-pos kita. Para dokter Kristen tidak dapat meninggalkan rumah sakit mereka, gubernur Kristen tidak dapat meninggalkan distrik mereka, para pendeta Kristen tidak dapat meninggalkan jemaat mereka. Wabah tidak akan membatalkan tugas kita, menurutnya Martin Luther, melainkan mengubah tugas kita menjadi jalan salib, yang dengannya kita harus siap untuk mati.

Bagi orang Kristen, lebih baik mati melayani tetangga daripada dikelilingi oleh tumpukan masker yang tidak pernah digunakan. Jika peduli dengan satu sama lain, jika kita berbagi masker dan sabun serta makanan kaleng, jika kita menjadi “penjaga saudara kita”, kita sebenarnya dapat mengurangi jumlah kematian juga.

Bagi orang-orang modern yang mengenal teori penyakit akibat kuman, ini semua bisa terdengar agak bodoh. Merawat orang sakit kedengarannya menyenangkan, tetapi kemungkinan besar menginfeksi orang lain demi menyelamatkan nyawa. Dalam lingkungan medis yang sangat profesional, haruskah orang awam benar-benar menanggung beban perawatan?

Di sini, elemen kedua dari pendekatan Kristen muncul: aturan ketat terhadap bunuh diri dan melukai diri sendiri. Tubuh adalah anugerah dari Tuhan dan harus dilindungi. Atau, seperti yang dikatakan Martin Luther dalam esainya tentang topik tersebut, manusia tidak boleh “mencobai Tuhan.”

Katekismus yang ditulis Luther untuk pengajaran Kristen menguraikan Perintah Kelima “Jangan Membunuh” dengan mengatakan hal ini sebenarnya berarti kita tidak boleh membahayakan orang lain melalui kelalaian atau kecerobohan kita.

Esai Luther mendorong orang percaya untuk mematuhi perintah karantina, mengendalikan hama di rumah mereka melalui fumigasi, dan mengambil tindakan pencegahan untuk menghindari penyebaran penyakit.

Motif Kristen untuk kebersihan dan sanitasi tidak muncul dalam pemeliharaan diri tetapi dalam etika pelayanan kepada tetangga. Kita ingin merawat orang yang menderita, yang pertama dan terpenting berarti dengan tidak menginfeksi yang sehat. Orang-orang Kristen menciptakan berbagai rumah sakit pertama di Eropa sebagai tempat yang higienis untuk menyediakan perawatan selama masa wabah, dengan memahami kelalaian dapat menyebarkan penyakit lebih lanjut, yang pada kenyataannya tergolong pembunuhan.

Perintah-perintah tersebut patut diingat ketika badan-badan keagamaan di Amerika Serikat, Korea Selatan, Singapura, Iran, Hong Kong, Malaysia, dan bahkan Indonesia telah berada di garis depan dalam penularan penyakit COVID-19 secara pesat.

Termotivasi oleh keprihatinan ini, Lyman Stone dari Foreign Policy telah menyiapkan buku pegangan yang lengkap untuk gereja-gereja tentang bagaimana mereka dapat memperkuat layanan untuk mengurangi penularan virus corona baru, yang diinformasikan oleh pedoman dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS dan pengalamannya bekerja sebagai misionaris di Hong Kong. Pengorbanan pertama yang harus dilakukan orang Kristen untuk memelihara sesama adalah kenyamanan diri sendiri, ketika kita dengan antusias berpartisipasi dalam langkah-langkah sanitasi yang agresif dan menjaga jarak (social distancing).

Jenis kerendahan hati semacam ini untuk orang lain adalah kekuatan yang kuat. Masker yang ada di mana-mana mungkin sebenarnya tidak sepenuhnya mencegah infeksi, tetapi berfungsi sebagai pengingat nyata, kita semua saling menjaga satu sama lain. Ketika prosedur sanitasi yang baik tak lagi tentang menyelamatkan kebersihan diri kita sendiri dan mulai mencintai sesama, hal itu tidak hanya menyelamatkan jiwa tetapi juga menghibur jiwa.

Terdapat salah satu elemen yang lebih kontroversial dari etika Kristen sepanjang sejarah wabah: Gereja tidak membatalkan pertemuan. Seluruh motivasi pengorbanan pribadi untuk merawat orang lain dan langkah-langkah lain yang terkait untuk mengurangi infeksi mengandaikan keberadaan komunitas ketika kita semua menjadi pemangku kepentingan. Bahkan ketika kita mengambil komuni dari piring dan gelas yang terpisah untuk meminimalisir risiko, tak lagi berjabat tangan atau berpelukan, dan duduk berjauhan dari satu sama lain, sesama jemaat masih saling berkomunikasi.

Beberapa pengamat akan melihat ini sebagai semacam fanatisme: Orang-orang Kristen sangat terobsesi dengan pergi ke gereja sehingga mereka akan berisiko memicu kemunculan epidemi penyakit.

Namun, kasusnya bukan seperti itu sama sekali. Virus corona baru membuat lebih dari 95 persen korbannya masih dapat bernapas. Meski demikian, hampir setiap anggota masyarakat merasa takut, cemas, terasing, sendirian, dan bertanya-tanya apakah ada yang akan merasa kehilangan jika mereka kelak tiada.

Dalam masyarakat yang semakin individualis, pandemi COVID-19 dapat dengan cepat bermutasi menjadi epidemi keputusasaan. Kehadiran Gereja berfungsi sebagai panggilan sosial, terutama untuk orang lanjut usia: Mereka yang tidak muncul selama kebaktian harus diperiksa keadaannya segera pekan itu. Ketika pekerjaan, sekolah, pertemuan publik, olahraga, perkumpulan hobi, atau bahkan dunia luar sama sekali membatasi pertemuan dan interaksi, kehidupan manusia tak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Lyman Stone dari Foreign Policy menyimpulkan, kita membutuhkan dukungan moral dan mental dari masyarakat untuk menjadi orang-orang baik yang kita cita-citakan.

Pilihan orang Kristen untuk mempertahankan pertemuan mingguan di gereja bukan merupakan sebuah takhayul yang mewah. Ini adalah pilihan yang jernih dan rasional untuk menyeimbangkan diri. Kita melupakan kegiatan lain dan bersusah payah untuk menjaga diri sebersih mungkin agar dapat berkumpul secara bermakna dan saling mendukung. Tanpa dukungan moral ini, sebagaimana yang dibuktikan warga Kota Wuhan, China dan mungkin orang-orang Italia saat ini, kehidupan dapat menjadi tak tertahankan. Bahkan orang-orang non-Kristen yang menghindari pergi ke gereja dapat menghargai pentingnya mempertahankan interaksi dengan komunitas yang saling peduli dan mendukung.

Bersemangatlah untuk berkorban demi orang lain, bahkan dengan mengorbankan hidup kita sendiri. Kita perlu bersikap obsesif dalam menjaga rutinitas higienis yang cermat untuk menghindari menulari orang lain. Kita harus mengandalkan komunitas untuk merawat pikiran dan jiwa. Mereka adalah bintang-bintang pemandu yang telah menggembalakan umat Kristiani melalui banyak wabah selama ribuan tahun. Ketika dunia terlambat menyadari fakta era epidemi belum berakhir, gagasan-gagasan kuno ini jelas masih relevan di zaman modern. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *