Industri Batik Menyusut Signifikan di Masa Pandemi

oleh -53 views
Sejumlah anak membatik masker kain di Kelurahan Dermo, Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (2/10/2020). Membatik dengan media masker yang diselenggarakan pemerintah daerah setempat tersebut guna memperingati Hari Batik Nasional sekaligus sosialisasi penerapan protokol kesehatan saat pandemi COVID-19 kepada anak-anak. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/pras.

JAKARTA-Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, pengakuan dunia terhadap batik adalah berkah sekaligus tantangan untuk masyarakat Indonesia. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana masyarakat Indonesia dapat konsisten dalam merawat, melestarikan, serta memperkenalkan batik Indonesia kepada dunia.

Sebagai Menteri Luar Negeri, Retno mengaku selalu membawa batik dan wastra nusantara lainnya di berbagai kesempatan penting. Hal ini menjadi penting, tidak hanya untuk mendiplomasikan kekayaan budaya negeri tetapi juga membantu para perajin batik untuk terus bertahan di masa pandemi Covid-19 ini.

Diungkapkan Retno, saat ini industri batik didominasi oleh UMKM yang jumlahnya mencapai 70.000 unit usaha dan menyerap lebih dari 200.000 tenaga kerja.

Sayangnya, pandemi berdampak pada industri batik Tanah Air. Permintaan batik menyusut secara signifikan. Alhasil banyak perajin yang terpaksa berhenti, dan juga banyak workshop yang terpaksa ditutup.

“Kami meminta seluruh perwakilan Indonesia di luar negeri untuk dapat membeli batik hasil UMKM sebagai promosi perwakilan. Sejauh ini sudah diperoleh komitmen pembelian batik senilai Rp 1,6 miliar. Upaya yang sama kita lakukan juga untuk kain nusantara lainnya. Saya yakin dengan kolaborasi yang erat kita bisa saling bahu membahu memulihkan industri batik dan ekonomi saudara-saudara kita para perajin batik semua,” ungkap Retno di peluncuran pembentangan perdana mahakarya kain Batik Garuda Nusantara yang berlangsung virtual, Jumat (2/10/2020). (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *