Revolusi Zionis di Dunia Arab

oleh -51 views
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu selama konferensi pers di Ramat Gan, Israel, Selasa, 10 September 2019 menjabarkan rencananya untuk menganeksasi Lembah Jordan. (Foto: Getty Images/Agence France-Presse/Menahem Kahana)

JAKARTA-Awal September 2020, The Washington Post menerbitkan editorial tentang Abraham Accords. Perjanjian untuk menormalkan hubungan antara Israel dengan Uni Emirat Arab dan Bahrain itu dipahami dengan sinisme terhadap para protagonis, kampanye pemilihan, otoritarianisme yang mengakar dalam, melibatkan Amerika Serikat dalam konflik sektarian di kawasan tersebut, dan pengkhianatan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. Agar adil, para penulis editorial mengakui kesepakatan normalisasi itu, dengan tegas menolak istilah “perjanjian damai”, secara paling sempit adalah positif, tetapi bagaimanapun juga menegaskan itu adalah produk dari pendekatan salah arah Presiden AS Donald Trump atas Timur Tengah. Itu ialah hal yang sulit.

The Washington Post memberikan terlalu banyak pujian atas perjanjian tersebut berkat Gedung Putih, tetapi juga memberikan pujian yang terlalu sedikit kepada konsekuensi kritis Abraham Accords yang hampir tidak dikomentari (di kalangan media arus utama dan komunitas kebijakan luar negeri): normalisasi Yahudi dan Yudaisme dalam masyarakat Arab dan Muslim. Itu merupakan masalah besar.

Steven A. Cook di Foreign Policy mengajukan ssejumlah pendapat untuk menganalisis upaya Uni Emirat Arab untuk mengeksplorasi serta memahami iman Yahudi dan jangkauannya kepada kaum Yahudi dari sudut pandang Cook sebagai seseorang yang paling tepat digambarkan sebagai “Yahudi secara budaya”. Cook merasa kuat tentang identitasnya, tetapi itu bukan fungsi dari kesetiaan pada hukum dan adat Yahudi. Cook tidak sepenuhnya menaati ritual Yahudi sehingga ganya mengeluh saat harus pergi ke sinagoga dan seringkali mengudap camilan dalam perjalanan ke kebaktian Yom Kippur selama puasa tahunan.

Kontras antara apa yang dilakukan Uni Emirat Arab melalui Abraham Accords dan upayanya yang lebih luas dalam menjangkau agama lain terutama Katolik Roma jauh melampaui norma yang telah biasa dialami Cook sejak dia mulai bepergian dan tinggal di Timur Tengah tiga dekade lalu. Selama berada di Kairo pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, Steven A. Cook dari Foreign Policy terkejut bukan oleh anti-Zionisme yang sesuai dugaan menjadi bagian dari wacana politik, melainkan anti-Semitisme yang menjadi bagian dari wacana budaya.

Fenomena ini terkait erat dengan pengunduran diri pemerintah dari bidang kritis seperti pendidikan dan budaya ke Ikhwanul Muslimin dan pada gilirannya perang posisi rezim dengan Islamis. Di Arab Saudi, anak sekolah diajarkan orang Yahudi adalah keturunan babi dan kera. Ketika Cook menjadi mahasiswa di Damaskus, Suriah, 26 musim tahun, suatu malam agen-agen rezim memberi tahu serangkaian desas-desus anti-Semit yang panjang dan lengkap karena mereka merasa penting mengajari Cook apa yang tidak dipelajari di Amerika Serikat. Cook tidak yakin salah satu narasi ini membuat perbedaan apa pun antara orang Israel dan Yahudi serta merongrong keyakinan mendasar di antara para pembela dan kepercayaan akan perbedaan tajam antara kritik terhadap perilaku Israel dan citra aneh orang Yahudi yang terlalu umum di kawasan.

Dengan penandatanganan Abraham Accords, Uni Emirat Arab membalik narasinya. Jangkauan mereka ke Israel telah membangkitkan minat baru pada orang Yahudi dan Yudaisme. Khaleej Times berbahasa Inggris menerbitkan suplemen Rosh Hashanah. Terdapat kebaktian yang pertama Rosh Hashanah di Abu Dhabi, meskipun sudah pernah ada komunitas Yahudi di Dubai yang pernah merayakan Tahun Baru Yahudi sebelumnya. Pemerintah UEA telah mengarahkan agar ada pilihan makanan kosher untuk umat Yahudi di hotel dan maskapai penerbangan negara.

Sesuai dengan beberapa tahun terakhir, Menteri Luar Negeri UEA Abdullah bin Zayed mengucapkan “Shana tova” kepada orang Yahudi di Twitter. Kapan terakhir kali menteri luar negeri lain melakukan itu? Penting untuk dicatat, bahkan sebelum ada Abraham Accords, UEA menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk membangun kompleks antaragama di Abu Dhabi yang menghubungkan masjid, gereja, dan sinagoga yang disebut Abrahamic Family House sebagai pusat toleransi beragama. Awal tahun ini, Steven A. Cook dari Foreign Policy bertemu dengan salah satu rabbi terkenal Washington, D.C. di bandara menunggu penerbangan dari UEA untuk pulang. Dia pernah ke negara itu untuk mengambil bagian dalam salah satu inisiatif pemerintah Emirat untuk menumbuhkan toleransi.

Bagi banyak orang, Steven A. Cook dari Foreign Policy yakin penjangkauan Uni Emirat Arab kepada kaum Yahudi mungkin tampak seperti taktik sinis. Cook sudah bisa membayangkan keberatan atas hal ini dan dapat membayangkan kritik di Twitter: “UEA hanyalah berbuat baik kepada Yahudi untuk membersihkan catatan buruk mereka di konflik Yaman dan hak asasi manusia” atau “Ini adalah hubungan masyarakat yang sinis oleh negara yang ingin menonjolkan dirinya sendiri sebagai model toleransi, tapi negara itu sama sekali bukan model toleransi selama lawan politik masih dipenjara”.

Warga Palestina membakar potret pangeran mahkota Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed al-Nahyan dan mantan kepala keamanan Palestina Mohammed Dahlan, selama protes menentang perjanjian normalisasi hubungan antara Israel dan Uni Emirat Arab, di Ramallah, Tepi Barat yang diduduki Israel, Sabtu, 15 Agustus 2020. (Foto: Reuters/Mohamad Torokman)

Semua itu tentu saja merupakan masalah yang sepenuhnya valid. Cook hampir tidak naif, tetapi bersedia menerima perkataan Uni Emirat Arab jika mereka tampak sangat tertarik untuk menormalisasi Yudaisme. Bahkan jika itu sekadar publisitas, Cook masih tetap setuju. Lagipula, itu lebih baik daripada sebaliknya, ketika ada persaingan antar negara di kawasan itu dalam hal kebencian terhadap Yahudi.

UEA juga tampaknya telah menciptakan dinamika positif di seluruh kawasan. Arab Saudi, yang tetap menolak untuk menjalin hubungan dengan Israel meskipun ada laporan tekanan dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump, kini memikirkan kembali pendekatan mereka terhadap agama Yahudi. Mesir sempat melakukan introspeksi singkat tentang masa lalu dan peran orang Yahudi dalam masyarakat Mesir beberapa tahun yang lalu, tetapi masalahnya tetap rumit. Menurut opini Steven A. Cook dari Foreign Policy, para pemuda Irak tampaknya terpikir untuk melakukan hal yang sama. Mungkin apa yang dilakukan Emirat, terlepas dari apa yang dipikirkan pihak lain tentang niat mereka, akan menghasilkan sejumlah kebaikan yang sangat dibutuhkan di kawasan tersebut.

Dengan demikian, Steven A. Cook menyimpulkan di Foreign Policy, para penulis editorial, jurnalis, dan analis dapat melontarkan kritik terhadap Abraham Accords sepuas mereka. Mereka mungkin ternyata benar dan normalisasi antara Uni Emirat Arab dan Israel ternyata tidak sebermanfaat itu, tetapi bagi anak Yahudi seperti Cook dampaknya mungkin lebih besar. Cook benar-benar menantikan untuk pergi ke sinagoga di Abu Dhabi, UEA bahkan jika dia akan terus mengeluh tentang hal itu dalam perjalanan ke sana. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *