Keraton Yogyakarta Hadiningrat Tiadakan Prosesi Budaya Tradisi Garebeg Mulud Tahun Jumakir

oleh -47 views
Abdi dalem Keraton Yogyakarta membawa gunungan dari Kompleks Keraton Yogyakarta menuju Pakualaman saat acara Grebeg Maulud di Yogyakarta, Rabu (21/11/2018). Dalam rangka memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW, Keraton Yogyakarta mengeluarkan tujuh gunungan yang diperebutkan oleh masyarakat di Masjid Gede Kauman, Kompleks Kepatihan serta Pakualaman. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/aww.

YOGYAKARTA-Prosesi budaya tradisi Keraton Yogyakarta Hadiningrat yakni Garebeg Mulud Tahun Jumakir 1954/2020 ditiadakan seiring belum berakhirnya pandemi Covid-19.

Penghageng Kawedonan Hageng Panitra Pura Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, GKR Condrokirono, menyampaikan semua prosesi memang tidak digelar, termasuk kegiatan hajad dalemmiyos gangsakondur gangsa, dan Garebeg Mulud yang rencananya pada 22-29 Oktober mendatang.

“Keputusan ini ditetapkan karena kondisi tanggap darurat Covid-19 di DIY, sekaligus menaati anjuran pemerintah, karena setiap prosesi Kraton Yogyakarta akan menimbulkan kerumunan massa,” terang GKR Condrokirono, Minggu (11/10/2020).

Namun menurutnya, tradisi Kraton tetap akan dilangsungkan dengan penyesuaian prosesi pembagian gunungan secara terbatas tanpa mengurangi esensi dan filosofi garebeg sebagai bentuk konsistensi pelestarian budaya, sekaligus simbol pemberian antara raja kepada rakyatnya.

Diketahui, garebeg atau grebeg memiliki arti suara angin dan garebeg ini pertama kalinya diselenggarakan oleh Sultan Hamengku Buwana I dalam upacara yang melibatkan seluruh abdi dalem keraton, dan melibatkan seluruh masyarakat.

Secara formal, garebeg bersifat keagamaan yang dikaitkan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW serta kedua hari raya Islam (Idulfitri dan Idhuladha).

Sebagai simbol gelar Sultan, Ngabdurrahman Sayidin Panotogomo Kalifatullah, selama satu tahun terdapat tiga kali upacara garebeg yaitu Garebeg MuludGarebeg Besar, dan Garebeg Sawal yang diselenggarakan di kompleks keraton dan lingkungan sekitarnya, seperti di Alun-alun Utara.

Sedangkan Garebeg Mulud diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh tepat pada tanggal 12 Rabiulawal.

Dalam prosesi Garebeg Mulud, juga dilakukan upacara Numplak Wajik sebagai tanda permulaan pembuatan gunungan, upacara Miyosipun Hajad Dalem sebagai puncak upacara dengan mengiring keluarnya Hajad Dalem yang berujud gunungan dari dalam Keraton ke Masjid Besar oleh para Pengulu Kraton. Sedang dalam tradisi Keraton Yogyakarta, juga menyelenggarakan Garebeg Mulud Dal yang terjadi setiap satu windu sekali (8 tahun), dan dilaksanakan dengan lebih besar.

Setiap Garebeg Mulud Dal, Sultan dipastikan hadir langsung di Masjid Besar dan di tengah publik, lengkap dengan pranata keraton. Sultan akan menendang tumpukan batu-bata yang ditempatkan di pintu terbuka sebagai simbol bahwa rakyat telah meninggalkan tradisi tanpa agama. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *