Rugikan Negara Rp 315 M, KPK Tetapkan 3 Tersangka Korupsi PT Dirgantara Indonesia

oleh -205 views

JAKARTA-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan tiga tersangka baru kasus dugaan korupsi terkait kegiatan penjualan dan pemasaran di PT Dirgantara Indonesia (Persero) tahun 2007 – 2017. Tiga tersangka baru itu yakni, Arie Wibowo selaku Kepala Divisi Pemasaran dan Penjualan PT DI tahun 2007-2014 dan Direktur Produksi PT DI tahun 2014-2019; Didi Laksamana selaku Direktur Utama PT Abadi Sentosa Perkasa; dan Ferry Santosa Subrata selaku Dirut PT Selaras Bangun Usaha.

Penetapan tersangka terhadap ketiga orang tersebut merupakan hasil pengembangan penyidikan kasus yang sama yang telah menjerat Budi Santoso selaku Dirut PT DI; mantan Asisten Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia bidang Bisnis Pemerintah Irzal Rinaldi Zailani; dan Direktur Utama PT PAL Indonesia, Budiman Saleh dalam kapasitasnya sebagai Direktur Aerostructure PT DI periode 2007- 2010, Direktur Aircraft Integration PT DI (2010-2012); dan Direktur Niaga dan Restrukturisasi PT DI (2012-2017)

KPK menduga perbuatan para tersangka, telah merugikan keuangan negara yang ditaksir senilai Rp 202.196.497.761,42 dan US$ 8.650.945,27. Jika dikonversi ke dalam Rupiah, kerugian keuangan negara akibat praktik korupsi di PT DI mencapai sekitar Rp 315 miliar dengan asumsi kurs 1 US$ adalah Rp 14.600.

“Perbuatan para tersangka mengakibatkan terjadinya kerugian keuangan negara pada PT DI senilai Rp 202.196.497.761,42 dan US$ 8.650.945,27, sehingga total kerugian negara lebih kurang Rp 315 miliar dengan asumsi kurs 1 US$ adalah Rp 14.600,” kata Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata, di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (3/11/2020).

KPK membeberkan, para tersangka telah melakukan korupsi terkait kontrak kerja fiktif dengan sejumlah perusahaan mitra penjualan, seperti PT Bumiloka Tegar Perkasa (BTP), PT Angkasa Mitra Karya (AMK), PT Abadi Sentosa Perkasa (ASP), PT Penta Mitra Abadi (PMA), dan PT Niaga Putra Bangsa (NPB)) dan PT Selaras Bangun Usaha (SBU). Kontrak dengan mitra penjualan tersebut hanya sebagai dasar pengeluaran dana dari PT DI (Persero) dalam rangka pengumpulan dana untuk diberikan kepada customer/end user.

Pembayaran yang dilakukan PT DI kepada mitra yang pekerjaannya diduga fiktif tersebut dilakukan dengan cara mentransfer langsung ke rekening perusahaan mitra penjualan. Kemudian sejumlah dana yang ada di rekening tersebut dikembalikan secara transfer/tunai/cek ke pihak-pihak di PT DI. Dana yang dihimpun oleh para pihak di PT DI melalui pekerjaan mitra penjualan yang diduga fiktif dialirkan kepada pejabat PT DI, pembayaran komitmen manajemen kepada pihak pemilik pekerjaan dan pihak-pihak lainnya serta pengeluaran lainnya.

Tak hanya merugikan keuangan negara, perbuatan korupsi yang dilakukan para tersangka memperkaya sejumlah pihak, termasuk ketiga tersangka baru. KPK menduga, Arie Wibowo menerima Rp 9.172.012.834, Didi Laksamana menerima Rp 10.805.119.031, dan Ferry Subrata menerima Rp 1.951.769.992.

Alex memastikan, KPK akan terus berupaya semaksimal mungkin menyelesaikan perkara yang berhubungan dengan kerugian negara sebagai bentuk upaya penyelamatan keuangan negara. Dari proses penyidikan yang dilakukan, KPK telah memeriksa 108 orang dan menyita aset senilai Rp 40 miliar.

“Telah melakukan penyitaan aset berupa uang dan properti atau tanah dan bangunan senilai Rp 40 miliar,” kata Alex.
Untuk kepentingan penyidikan, KPK telah menahan ketiga tersangka di tiga Rutan berbeda untuk 20 hari pertama. Arie Wibowo ditahan di Rutan Polres Metro Jakarta Timur, sedangkan Didi Laksamana ditahan di Rutan Polres Jakarta Pusat, sementara Ferry Santosa Subrata ditahan di Rutan Polda Metro Jaya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *