5 Faktor Kemenangan Joe Biden

oleh -262 views

JAKARTA-Setelah 50 tahun memegang jabatan publik dan memendam ambisi menjadi presiden, Joe Biden akhirnya memenangkan jalan ke Gedung Putih.

Pemilihan presiden kali ini tidak seperti yang diperkirakan banyak orang, karena berlangsung di tengah pandemik dan ketegangan sosial. Lawan dia adalah petahana yang non-konvensional, orang yang selalu menentang anggapan umum. Namun, dalam upaya ketiganya menuju kursi presiden (setelah dua kali gagal di konvensi Partai Demokrat), Biden dan timnya menemukan cara untuk menyingkirkan hambatan politik dan merebut kemenangan dengan selisih di atas 4 juta suara atas Donald Trump.

Seoerti diulas BBC, ada lima alasan kenapa putra seorang salesman mobil asal Delaware ini akhirnya memenangkan jabatan presiden.

1. Covid, Covid, Covid
Mungkin alasan terbesar Biden menang adalah hal yang sepenuhnya di luar kendali dia.

Pandemik virus corona selain menewaskan lebih dari 230.000 warga Amerika juga telah mentransformasi kehidupan dan politik di negara itu. Di hari-hari terakhir kampanye, Trump sendiri tampaknya mengakui hal tersebut.

“Semua berita bohong ini isinya hanya Covid, Covid, Covid, Covid,” kata presiden dalam kampanye pekan lalu di Wisconsin, di mana kasus positif melonjak pesat beberapa hari terakhir.

Wabah Covid ini merontokkan kinerja ekonomi dan mengikis senjata ampuh yang menjadi topik andalan Trump dalam kampanye yaitu pertumbuhan dan kesejahteraan. Gara-gara Covid tingkat popularitas Trump anjlok sampai 38% menurut survei Gallup, dan kemudian dieksploitasi oleh tim Biden.

2. Kampanye Terbatas
Sepanjang karir politiknya, Biden sering mendapat masalah karena cara bicaranya. Gagap yang dia alami sejak kecil membuatnya gagal dalam upaya pertama menuju kursi presiden pada 1987, dan juga dalam upaya kedua 2007.

Dalam percobaannya yang ketiga kali ini, kendala bicara itu masih ada tetapi jarang terekspos sehingga tidak menjadi masalah besar.

Penyebabnya adalah dia bukan orang yang banyak dicari sebagai sumber berita. Di samping itu, ada berita yang lebih besar — pandemik Covid, kerusuhan pasca-pembunuhan George Floyd, dan masalah ekonomi — yang menyita perhatian nasional.

Tim kampanye dia layak dipuji karena menerapkan strategi untuk membatasi penampilan Biden dan meminimalkan risiko kelelahan atau kecerobohan yang bisa menimbulkan masalah.

Mungkin dalam kondisi normal, ketika warga Amerika tidak terlalu khawatir tertular virus, strategi ini bisa menjadi bumerang. Dan mungkin ledekan Trump tentang “menyembunyikan Biden” akan berhasil.

Tim Biden tetap membatasi geraknya dan membiarkan Trump menjadi pihak yang termakan omongannya sendiri. Pada akhirnya, strategi ini membawa hasil.

3. Asal Jangan Trump
Sepekan sebelum hari pemungutan suara, tim Biden meluncurkan iklan televisi dengan pesan bahwa pemilihan kali ini adalah “pertempuran membela jiwa Amerika” dan kesempatan untuk mengakhiri pertikaian saudara dan kekacauan dalam empat tahun terakhir.

Di balik slogan itu ada kalkulasi simpel. Biden mengandalkan peruntungannya pada anggapan bahwa Trump terlalu sering memecah belah dan terlalu nyinyir, sementara apa yang diinginkan rakyat Amerika adalah pemimpin yang lebih tenang dan stabil.

“Saya sudah sangat jenuh dengan sikap Trump sebagai pribadi,” kata Thierry Adams, warga keturunan Prancis yang telah tinggal di Florida selama 18 tahun dan untuk pertama kali memberikan suara di pemilihan presiden.

Partai Demokrat berhasil menjadikan pemilihan ini sebagai hari penghakiman untuk Trump, bukan pilihan antara dua kandidat yang ada.

Pesan yang disampaikan Biden sederhana saja, bahwa “dia bukan Trump”. Yang sering diulang-ulang oleh Demokrat adalah frasa bahwa kalau Biden menang, warga Amerika bisa melewatkan waktu berpekan-pekan tanpa sekali pun memikirkan politik. Ini memang dimaksudkan sebagai candaan, tetapi di dalamnya tersimpan kebenaran yang dicari masyarakat awam.

4. Tetap di Tengah
Dalam perjuangan memenangkan pencalonan di Partai Demokrat, lawan Biden berasal dari kelompok kiri liberal, seperti Bernie Sanders dan Elizabeth Warren yang punya modal kuat untuk menggelar kampanye dengan massa sebanyak penonton konser musik rock.

Biden tetap memilih jalan tengah, menolak ajakan kelompok kiri untuk mendukung jaminan kesehatan universal yang dijalankan pemerintah, menggratiskan uang kuliah, dan pajak kekayaan. Ini membuat dia bisa menarik kelompok moderat dan sebagian kalangan Partai Republik.

Strategi ini tercermin dari keputusan Biden untuk memilih Kamala Harris sebagai cawapres ketika sebetulnya dia punya opsi lain untuk orang yang lebih didukung kelompok kiri.

Hanya soal lingkungan dan perubahan iklim Biden bisa lebih dekat dengan Sanders dan Warren, dan itu menjaring pemilih muda yang lebih memiliki perhatian pada isu-isu tersebut.

5. Banyak Uang, Sedikit Masalah
Awal tahun ini, kas tim kampanye Biden kosong. Dia masuk kampanye tertinggal dari Trump, yang telah meraup dana mendekati US$ 1 miliar.

Namun mulai April, tim Biden berubah menjadi magnet donasi yang luar biasa dan akhirnya memiliki posisi finansial yang lebih kuat dari lawannya. Pada awal Oktober, nilai uang di tangan yang dimiliki tim Biden US$ 144 juta lebih banyak dari dana tim kampanye Trump, sehingga mampu mengubur lawannya dalam iklan kampanye di televisi nyaris di semua negara bagian yang diperebutkan.

Tentu saja uang bukan segalanya. Pada 2016, tim Hillary Clinton juga punya dana lebih banyak tetapi kalah.

Namun pada 2020, ketika kampanye tatap muka dibatasi karena pandemik dan warga Amerika melewatkan lebih banyak waktu menyimak berita di rumah, keunggulan dana Biden membuatnya mampu menjangkau lebih banyak audiens dan terus membanjiri mereka dengan pesan sampai hari terakhir.

Kondisi itu membuatnya mampu memperluas peta kampanye hingga ke negara bagian yang dikuasai Partai Republik seperti Texas, Georgia, Ohio dan Iowa. Sebagian besar tidak membawa hasil tetapi mampu menekan Trump di posisi bertahan. Selain itu, dia mampu unggul di Arizona dan Georgia yang dulu milik Trump.

Setidaknya, uang memberi lebih banyak opsi kampanye dan inisiatif — Biden bisa memanfaatkan itu sebaik mungkin. (BBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *