Ditengarai Ada Kekuatan Politik Manfaatkan Sentimen Agama

oleh -85 views
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI) Imam Addaruqutni (Foto: Antara)

JAKARTA-Intelektual Muhammadiyah yang juga Sekjen Dewan Masjid Indonesia Imam Addaruqutni, mengingatkan, pelibatan agama dalam kegiatan politik seharusnya bisa mencerahkan. Sebaliknya, politisasi agama merupakan cara yang buruk dan berbahaya jika digunakan untuk memprovokasi.

Hal tersebut disampaikan dalam webinar Moya Institute bertema “Gaduh Politisasi Agama”, yang digelar pada Kamis (19/11/2020). Imam Addaruqutni, menilai, apa yang dilakukan imam besar FPI Rizieq Syihab merupakan bagian dari politisasi agama.

“Kalau Rizieq mungkin mengatakan bukan (politisasi agama), tetapi kalau kita mengatakan iya,” kata Imam.

Dalam kesempatan itu dirinya berharap jika ada perbedaan pandangan, apalagi pandangan politik maka harus bisa segera diselesaikan. Jika dibiarkan maka bisa berujung pada konflik berkepanjangan.

Menurut Imam, kasus seperti yang dibuat Rizieq Syihab kalau sampai tidak bisa dikendalikan akan berdampak pada banyak korban. Bahkan, sejumlah pejabat penting di kepolisian akhirnya dimutasi.

Ketua Umum Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia, TGB Muhammad Zainul Majdi memaknai politisasi agama merupakan pemanfaatan agama semata untuk mendapatkan kekuasaan atau memenangkan kontestasi politik. Agama sudah dijadikan instrumen untuk mendapatkan hasil politik.

“Menurut saya politisasi agama bentuk paling buruk dalam hubungan agama dan politik. Sekelompok kekuatan politik menggunakan sentimen keagamaan untuk menarik simpati kemudian memenangkan kelompoknya,” kata TGB.

Namun demikian, politisasi agama juga bisa baik kalau nilai-nilai mulia agama menjadi prinsip dalam berpolitik. Hal itulah yang dilakukan pendiri bangsa.

Melihat kejadian akhir-akhir ini, TGB menilai ada kelompok tertentu mempolitisasi agama dengan tujuan politik, murni untuk mencapai kekuasaan. Namun, dirinya meyakini, mainstream politik negara ini adalah moderasi agama.

Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU), Muhammad Cholil Nafis, menilai, apa yang terjadi akhir-akhir ini bukan karena kegagalan NU dan Muhammadiyah dalam membimbing umat. Namun lebih pada kegagalan orang yang ingin membawa isu liberal.

“Liberal ini melahirkan radikalisme. Yang kita hadapi ini buah dari proses liberalisasi. Jadi, jangan sampai kita menepi menjadi radikalisme. Bagaimana memasyarakatkan moderasi Islam agar orang tidak menepi ke kanan dan ke kiri,” kata Cholil. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *