Dari Buku ke Buku

oleh -92 views

JAKARTA-‘Buku’ – apapun genre-nya, buku merupakan barang berharga yang syarat akan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, mereka yang membaca buku merupakan golongan orang beruntung seperti yang digaungkan oleh sederet pemimpin bangsa di seluruh pelosok negeri.

Sebagaimana yang diungkap oleh sastrawan Indonesia, Goenawan Muhamad. Dengan melestarikan tradisi membaca, sama halnya dengan melakukan perlawanan terhadap kebodohan. Sebab, melalui buku lah seseorang dapat menciptakan, mengubah, bahkan membentuk sesuatu yang dianggapnya benar dan harus dijalani.

“Membaca bukan seperti makan: ada mulut, ada rendang Padang, ada pencernaan, ada pembuangan. Bacaan sebagai ‘makanan otak’ adalah kiasan yang menyesatkan. Membaca adalah berargumentasi, menciptakan, membentuk, mengubah: semua itu pada saat yang sama juga proses menghidupkan apa yang dibaca,” ungkap Goenawan Muhamad.

Lantas, untuk sampai pada proses menghidupkan kembali apa yang dibaca, paling tidak seseorang membutuhkan buku-buku yang dapat memberikan khazanah berpikir. Beruntung, P. Swantoro dalam bukunya berjudul Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu (2002), telah memberikan referensi akan buku-buku terbaik sepanjang masa.

Tercatat, dalam penulisan buku ini empunya tulisan mengunakan 168-200 buku, jurnal, Koran, majalah, dan bentuk literasi lainnya. Tak hanya itu, penulis dengan lihainya mengaitkan antara satu referensi dan referensi lainnya untuk menjembatani suatu peristiwa bersejarah yang ingin didongengkan. Entah itu dari periode Penjajahan Portugis, Belanda, Jepang, hingga Kemerdekaan Indonesia.

Menariknya, semua topik itu diulas oleh penulis dengan gaya khas storytelling. Gaya tersebut, tak lain seperti keinginan P.Swantoro, yaitu ia ingin menceritakan suatu peristiwa bersejarah layak seorang kakek yang mendongengkan kisah-kisah penuh makna.

Namun, bukan dongeng yang hanya berkembang lewat mitos. Melainkan, pria yang juga mantan Wakil Redaksi Harian Kompas (1966-1989), selalu menandai kisahnya dengan seberkas fakta sembari mengutip ulang isi buku, lengkap dengan halaman buku yang dikutip olehnya.

Buku-buku yang digunakan olehnya pun tak sembarang buku. Sederet buku langka yang generasi kekinian sukar menemukannya di etalase toko buku, banyak dihadirkan. Beberapa di antaranya Geïllustreerde encyclopaedie van Nederlandsch-Indië (1934), The History of Java (1817), The History of Sumatra (1783), Mohammad Hatta: Memoir (1979), dan Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965).

Sebagai pembuka, P. Swantoro memulai cerita dengan buku yang dulu pernah mengisi hidupnya sewaktu kecil. Kala itu, penulis tertarik dengan salah satu buku berbahasa Belanda yang memiliki banyak gambar unik di lemari orang tuanya.

Olehnya yang belum bisa berbahasa Belanda, maka menikmati rangkaian gambar menjadi hobinya sewaktu kecil. Sayangnya, buku tersebut lenyap seiring penjajahan Jepang, yang memang melarang buku-buku berbahasa Belanda.

Kendati demikian, saat sudah dewasa dan mengusai bahasa Belanda, memori akan masa lalu bersama buku itu terus teringat. Puncaknya, lewat bantuan seorang teman yang menjadi kolektor buku tua, penulis pun meminta tolong untuk dicarikan buku itu. selebihnya, penulis mendekripsikan bagaimana tampilan buku, karena tak memiliki ingatan akan judul.

Alhasil, bak durian runtuh, buku rekaan orang Belanda G.F.E. Gonggryp dan lima orang lainnya berjudul Geïllustreerde encyclopaedie van Nederlandsch-Indië (1934), akhirnya didapat. Kelak, penulis langsung melahap habis isi buku. Nyatanya, buku setebal 1.584 halaman berisikan ensiklopedia terkait pengetahuan umum zaman Kompeni.

Gambar-gambar yang dilihatnya semasa kecil, pun ternyata lambang-lambang dari kota yang berada di Hindia-Belanda (Indonesia) zaman dulu. Uniknya, setiap lambang dari kota-kota seperti Cirebon, Surabaya, dan Batavia (Jakarta), memiliki penjelasan terkait makna filosofis dati tiap kota.

“Menurut G.F.E. Gonggryp dalam karya itu ada tujuh kekuatan yang menentukan sejarah perekonomian Hindia-Belanda. Pertama, keadaan alamnya. Kedua, karakter, bakat, dan ide penduduk pribumi. Ketiga, karakter dan ide-ide bangsa lain. Keempat, kepadatan penduduk dan perubahan-perubahannya. Kelima, pembagian kerja dalam masyarakat. keenam, pembentukan modal. Ketujuh, peristiwa-peristiwa ekonomi nasional,” tulisnya di halaman 10.

Siapa pun yang ingin mempelajari tentang seisi Pulau Jawa sudah pasti akan menjadikan buku rekaan Thomas Stamford Raffles berjudul The History of Java (1817) sebagai referensi wajid. Tak terkecuali empunya buku. Bagi penulis, raffles merupakan sesosok yang penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Hinda-Belanda.

Buktinya, saat menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Raffles menghidupkan kembali lembaga ilmu pengetahuan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Westenshappen yang sempat mati suri di Batavia. Atas dasar itu, ia pun kemudian mendalami sejarah dan budaya Jawa. Hal itulah yang menjadi alasan dirinya dikagumi oleh banyak orang, termasuk Sejarawan kesohor Peter Boomgaard.

“Akhirnya saya merasa seperti hidup di lingkungan yang dikisahkannya. Dan setiap kali saya berurusan dengan sesuatu yang berkaitan dengan abad ke-19, maka saya selalu mencek dulu apa yang ditulis Raffles mengenai masalah itu,” ungkap penulis mengutip Boomgaard, halaman 158.

Jauh sebelum The History of Java karya Raffles lahir, William Marsden telah menuliskan karyanya berjudul The History of Sumatra (1783) lebih dulu. Bedanya, karya Raffles berfokus seputar sejarah Pulau Jawa. Sedangkan, Marsden lebih kepada Pulau Sumatra.

Disinyalir pembuatan The History of Java terinpirasi dari karya Marsden. Fakta itu karena kedua karya sama-masa tak hanya memuat cerita sejarah, tetapi juga berbagai macam bidang kehidupan yang tergelar pada wilayah yang menjadi obyek penulisan.

“Buku ini menawarkan jauh lebih banyak daripada sekedar sejarah. Nyatanya buku tersebut merupakan ensiklopedia, dan ini adalah khas produk zaman pencerahan,” imbuh P. Swantoro yang lagi-lagi memakai pendapat Boomgaard, halaman 180.

Kekaguman penulis dengan kedua pendiri bangsa, Bung karno dan Hatta tampak terlihat jelas dengan banyaknya bagian yang menjelaskan peran mereka bagi kemerdekaan. Tak hanya itu, P. Swantoro pun turut menulis terkait perbedaan pribadi keduanya. Namun, perihal kesamaan tak lupa diungkap olehnya berdasarkan dua karya fenomenal. Pertama, karya Hatta sendiri: Mohammad Hatta: Memoir (1979). Kedua, karya Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965).

Dalam salah satu kesamaan, penulis mengungkap jikalau baik Soekarno maupun Hatta pernah mengalami intervensi dari ibu mereka masing-masing dalam perjalanan pendidikan. Hampir saja Hatta tak meneruskan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (sekolah setingkat SMP). Sedangkan Bung Karno nyaris tak menjadi mahasiswa Technische Hoogeschool te Bandoeng (ITB), tetapi belajar di Negeri belanda.

“Seandainya itu terjadi, barangkali akan lain pulalah perjalanan sejarah Indonesia. Peristiwa kecil tak jarang mengakibatkan peristiwa besar,” hadir di halaman 388.

Kiranya, itulah ulasan terkait buku setebal 474 halaman. selebihnya pembaca akan disajikan pengalaman penulis berkela lintas zaman dengan buku-buku terbaik. beberapa ada yang bercerita panjang lebar terkait Pangeran Diponegoro, Ki Hajar Dewantara, Sutan Syarir, dan sederet tokoh dari Belanda maupun Amerika yang memiliki ketertarikan akan Indonesia.

Detail:

Judul Buku: Dari Buku Ke Buku: Sambung Menyabung Menjadi Satu

Penulis: P. Swantoro

Terbit Pertama Kali: 2002

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Jumlah Halaman: 474

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *