Ketika Eksistensi Vatikan Diragukan?

oleh -113 views

KEBERADAAN Vatikan dengan segala macam jejak rekam yang pernah dibukukan dalam tiga corak model informasi: terbuka; rahasia; dan sangat rahasia, menjadikan Vatikan sebagai satu obyek telaah yang cukup mengundang para peneliti kebenaran peristiwa. Berawal dari dibeberkannya bukti skandal Gerejawi yang memalukan sejarah, akhirnya Vatikan dinobatkan sebagai satu sistim struktur yang meragukan untuk bisa diyakini sebagai sumber kebenaran ultim.

Dan tatkala kacamata okultisisme dan intelijen mulai dipakai untuk menyusuri fakta lekuk anatomi Vatikan yang sesungguhnya, ditemukanlah mega kejanggalan yang membuat manusia tercengang: peradaban dunia dan “kendali kegelapan”. Buku ini akan memandu anda melakukan ekspedisi ilmiah: Menyusup Kabut Gelap Vatikan.

Tidak terpikir sebelumnya bahwa hari Sabtu, 9 Juli 2011 akan menjadi hari yang sedikit mengguncang akal pengetahuan dan keilmiahan saya. Berawal dari pertemuan saya dengan seorang kawan baik di Jogjakarta. Di sebuah tempat di Bulaksumur.

Setelah saling sapa, ia menyodori saya sebuah buku baru. Menyusup Kabut Gelap Vatikan. Pada awalnya saya hanya mengintogerasinya ringan. ya..sekilas “what about” lah…

Saya sendiri pada waktu itu tidak sedang sebagai seorang pengamat atau kritikus, tapi hanya seorang kawan, tidak lebih. Kemudian terhadap buku yang disodorkan itu saya agak mengkerutkan dahi, dalam ilmu psikologi artistika yang pernah saya pelajari, saya melihat gambar yang gemetar diatas sampul buku itu. Betapa tidak, buku itu ternyata hendak menelanjangi keberadaan Vatikan dan segala aktifitas remang yang sangat dekat dengan ranah konspirasi global dan ilmu tanda. Bahkan dunia Intelijen juga.

Sekilas pintas saya memang teringat dengan pak Umberto Eco dengan The Rose nya, tapi setelah saya membacanya dengan seksama, luar biasa, lebih mendebarkan dari sekedar The Davinci Code atau roman sejenis. Namun jangan salah, buku bersampul lubang kunci klasik yang di hadapan saya ini adalah buku Ilmiah, yang berhak dijadikan sebagai literatur.

Hingga kini pun saya mencoba untuk tidak terkejut dengan keberadaan buku itu. Karena toh, lalu lintas rekam sejarah mengenai perihal Freemason dan Vatikan sudah cukup lama menjadi satu perdebatan dunia.

Kesimpangsiuran Vatikan sudah ditandai dengan garis merah oleh beberapa peneliti dan sejarawan sejak dahulu. Sudah menjadi konsekuensi logis bahwa sesuatu yang hanya berani menghadirkan kemisterusan yang dibungkus dengan ritus dan nama agama akan menjadi pusat tontonan. Lebih-lebih setelah sekian tahun tidak ada peneliti dan sejarawan yang berani menuliskan temuannya. Karena selalu saja, semua akan berakhir dengan peristiwa hilangnya nyawa. Dan kekejaman atas efek temuan itupun selalu dibungkus oleh sebuah konspirasi global dibawah strategi intelijen yang tersusun rapi.

Yang baik dan masih tersisa dari dunia adalah, kebusukan tidak akan berubah menjadi bunga Mawar meskipun semesta manusia menyemprotnya dengan minyak wangi paling mahal yang mereka punya.

Tentu, peredaran buku seperti Menyusup Kabut Gelap Vatikan ini cukup berpotensi memicu konflik agama (baca: keyakinan). Sebab dampak negatif paling pertama dari buku ini tentu adalah lunturnya keimanan; kedua adanya erosi pembenaran terhadap dogma Tuhan versi Vatikan; ketiga adalah konflik internal yang memiliki daya ledak untuk menjadikan warga bangsa saling melontarkan mata tajamnya (baca: menghina). Inilah mengapa menurut saya buku ini telah mengalami penolakan semua penerbit, sebab yang layak diketahui oleh publik yang sesungguhnya adalah semua karya terbitan berada di bawah kuasa sebuah deputi “angker” yang masih eksis di Indonesia ini.

Namun, dari sisi alam ilmu pengetahuan yang universal, sesungguhnya kehadiran buku ini bagi saya sendiri adalah sebuah tonggak baru di Indonesia khususnya dan dunia luas umumnya. Karena memang menurut kawan saya itu buku ini sudah siap diterbitkan dengan bahasa Inggris oleh seorang rekanan penerbit dari salah satu negara Eropa, dan inipun mencetak sebuah misteri tersendiri. Mengapa? Sebab ada satu kejanggalan yang akan diperdagangkan disini. Knowledge orientation mungkin saja, tapi saya lebih suka untuk menyebutnya sebagai Era Baru Ilmu Tanda.

Sebuah agama akan diperdengari sangkakala kiamat atas kebenaran yang diajarkannya, begitulah buku itu menampar saya.

Dan usut punya usut, ternyata buku itu diterbitkan oleh penerbit baru (analisa non-data) yang mungkin adalah deformasi sebuah penerbit lama yang memang hobi membidik selera baca manusia dengan buku-buku bertema kontroversial. Sebab ketika saya bertanya darimana kawan saya mendapatkan buku itu, ia hanya berkata: pesan di took buku online.

Perkataan manusia tentang jejak rekam masa lalu akan dibuktikan dalam perbincangan ilmiah kekinian. Dan apakah Menyusup Kabut Gelap Vatikan ini benar-benar membuka tabir yang (katanya) mengerikan? Tentu pada ingatan kebenaran komunal warga dunia semua akan di presentasikan ulang***

Solo, 11 Juli 2011

Ragil Wirayudha, Kompasianers

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *